ORGANISASI YPRU BERBASIS STRUKTURAL

Yayasan Pendidikan Raudlatul Ulum (YPRU) sejak awal sudah terlihat eksis dalam mengawal proses pendidikan dilingkungan Raudlatul Ulum, meskipun dominasi figur begitu kental dalam peran-peran kontrol terhadap tingkat organisasi dibawahnya yang tidak jarang juga cenderung bersifat individualistik. Misalnya, pengawasan dan pengendalian yang dimainkan oleh KH Qoffal Syabrawi, selaku Koordinator Pendidikan pertama,  begitu sentralistik sehingga gaya kepemimpinan demikian menampakkan sosok kiai yang dikenal sabar tetapi tegas itu sebagai tokoh yang ditakuti dilingkungan Raudlatul Ulum. Bahkan dalam sejarahnya, bagi semua Dewan Guru dan murid, kewibawaan adik KH Yahya Syabrawi ini tidak saja muncul pada sosok pribadinya, tetapi terhadap sepeda yang ditunggangi setiap dinas ke madrasah telah memberikan kesan “menakutkan”.

Sejalan perjalanan waktu, hirarki absolutisme pihak yayasan dalam banyak hal yang terwakili oleh figur-figur tertentu kini mulai tergerus senada dengan tingkat pengetahuan masing-masing pendidik terhadap administrasi dan manajemen organisasi yang kian berkembang. Perkembangan pemahaman para guru inilah yang menjadi salah satu dari sekian faktor penting yang menyebabkan tuntutan agar ada semacam “gerakan” reorientasi, restrukturisasi dan regenerasi dalam tubuh organisasi yayasan. Keinginan yang mulai berhembus dari kalangan pengajar bak gaung bersambut dengan komposisi di dalam yayasan yang mulai mengakomodir generasi muda. Sebetulnya terwujudnya proses ini juga tidak lepas dari bimbingan dan arahan kaum tua di jajaran kepenguruasan, terutama KH Qosim Bukhori, yang dengan sangat arif menyilahkan orang-orang muda mengambil bagian dalam keikusertaan memainkan peran-peran pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan dilingkungan YPRU. Keterlibatan kaum muda dari kalangan keluarga KH Bukhori Ismail diawali dengan masuknya KH Abd. Rosyid Fudloli, Gus Hamim Kholili dan Gus Hasbullah Hoeda. Kemudian menyusul Gus Abd Mannan Qoffal, Gus Fawzan Zanrif, H. Basuni Ghofur, Gus Yusqi Qosim dan Muhammad Madarik.

Pada awal-awal periode KH Abd Rasyid sebagai Koordinator Pendidikan, langkah-langkah yang begitu menonjol terlihat pada perbaikan administrasi dan manajemen keuangan, pengembangan fisik dan harmonisasi komunikasi dengan masyarakat. Ketiga aspek ini secara umum menuai hasil yang bermanfaat bagi perkembangan pendidikan, lebih-lebih dalam peran sosial, kiai Abd Rasyid memiliki potensi besar untuk memobilisir masyarakat. Tetapi pada dimensi hubungan antara yayasan – terutama secara individual menyangkut dirinya – dengan jajaran dewan pengajar agaknya sedikit terlupakan untuk selalu dilakukan strategi pendekatan-pendekatan personal antar dirinya dan anggota keluarga di dalam lingkungan yayasan, sehingga dalam sisi ini aliran komunikasi dan koordinasi kurang lancar.

Selanjutnya periode berikut, tatkala KH Qosim Bukhori, sebagai Ketua Umum, meninggal dunia setelah sakit stroke dalam waktu sekian lama mendera beliau dilakukanlah perubahan dan perombakan mendasar terhadap struktur dan beberapa figur. KH Mujtaba Bukhori yang pada awalnya berada pada posisi Wakil Ketua disepakati untuk berkenan menduduki kekosongan jabatan sepeninggal kakaknya. Perdebatan posisi dan komposisi kepengurusan muncul diantara kalangan muda terkait dengan konteks penyesuaian antara potensi, kinerja dan tuntutan perundang-undangan yayasan. Sebagian pihak mengusulkan agar kiai Mujtaba berada pada posisi Pembina yang memiliki hak dan wewenang begitu absolut dalam aturan perundang-undangan. Tetapi pihak lain menginginkan posisi tersebut tetap diduduki oleh beliau, mengingat sejak awal dalam bingkai sejarah yayasan jabatan Ketua Umum tidak pernah digantikan oleh kalangan muda, oleh karenanya posisi itu sekuat mungkin bisa diupayakan untuk tetap berada di tangan para kiai sepuh.

Sesungguhnya alasan yang diungkapkan terlihat sangat mengada-ada, sebab melihat komposisi jabatan dalam struktur yayasan diatur menjadi tiga: 1) Pembina. 2) Pengawas. 3) Pengurus. Sebagaimana diatur dalam perundang-undangan yayasan, tingkat paling tinggi dengan wewenang dan hak yang begitu luas dimiliki oleh Pembina karena diasumsikan orang-orang duduk di dalamnya pemilik yayasan. Sedangkan Pengawas berada pada level berikutnya dengan wewenang dan hak tidak sebesar Pembina. Sementara pada bagian selanjutnya ialah Pengurus. Elemen ini merupakan pelaksana semua program yang dicanangkan melalui sepengetahuan yang dikoordinasikan dan dikomunikasikan pada Pembina atau Pengawas, malah kadang dalam kasus-kasus tertentu persetujuan kedua bagian tersebut diperlukan guna mendapatkan legitimasi status keputusan. Dalam tataran aplikasi, nasib Pengurus atau anggota secara kolektif maupun individu terletak pada seberapa produktifitas dan etos kerja atau kegagalan mereka terhadap penyelenggaraan program. Oleh karena itu, keinginan menetapkan kiai Mujtaba pada posisi Ketua Umum Pengurus cukup punya alasan untuk dituduh sebagai impian yang memiliki bias politis, karena latarbelakangnya bukan mempertahankan tradisi tetapi lebih cenderung dilatari oleh syahwat “menjegal” figur.

Pada masa awal-awal kiai Abd Rasyid, susunan kepengurusan secara umum terdiri : jajaran ketua, dan jajaran koordinator. Komposisi Struktur Organisasi YPRU secara rinci terdiri dari:

  1. Dewan Penasehat.
  2. Ketua-ketua terdiri dari : Ketua Umum, Ketua I dan Ketua II.
  3. Kesekretaritan terdiri dari : Sekretaris I dan Sekeretaris II.
  4. Bendaharawan terdiri dari : Bendahara I dan Bendahara II.
  5. Perwakafan dan Humasy I dan II.
  6. Koordinator.

Pada jajaran Koordinator terdiri dari : Koordinator Pendidikan, Wakil Koordinator I dan II. Dalam pelaksanaan program harian, terutama yang bersifat koordinasi kepada unit-unit, Koordinator ini dibantu oleh Kepala Bidang (Kabid) yang terdiri dari : Kabid Pendidikan dan Wakil Kabid Pendidikan, Kabid Sarana Prasarana dan Wakil Kabid Sarana Prasarana.

Sedangkan diakhir masa-masa kiai Abd Rasyid menduduki jabatan Koordinator Pendidikan, susunan kepengurusan dilakukan perombakan disesuaikan tuntutan dan ketentuan perundang-undangan Kemenhunkam. Secara rinci struktur kepengurusan YPRU sebagai berikut:

  1. Dewan Pembina.
  2. Dewan Pengawas.
  3. Dewan Pengurus yang terdiri : 1) Ketua-ketua terdiri dari : Ketua Umum, Ketua I dan Ketua II. 2) Kesekretaritan terdiri dari : Sekretaris I dan Sekeretaris II. 3) Bendaharawan terdiri dari : Bendahara I dan Bendahara II. 4) Jajaran Koordinator yang terdiri: A.  Koordinator Pendidikan yang dibantu oleh : 1- Wakil Koordinator Kurikulum. 2- Wakil Koordinator Keuangan dan Manajemen. 3- Wakil Koordinator SDM. B. Koordinator Sarpras (Sarana dan Prasarana). C. Koordinator Kepesantrenan. D. Koordinator Perwakafan.

Dari uraian ini dapat dibaca bahwa keberadaan kiai Mujtaba di dalam struktur yayasan sebetulnya merupakan fenomena “orang benar di tempat yang kurang tepat”. Sebagai salah satu tokoh yang tergolong sepuh di zaman sekarang, kiai Mujtaba seharusnya didudukkan sebagai pembina dan pemberi arah yayasan ini, bukan justeru pihak yang berada pada posisi pelaksana.

Tetapi apapun yang menjadi argumentasi setiap penetapan dan keputusan dalam lingkungan YPRU merupakan fakta yang harus kita terima sebagai sabda Tuhan yang mungkin terbaik buat perkembangan organisasi ini di masa kini.

Dengan komposisi struktur organisasi yang sudah diperbaharui ini, YPRU kini mulai tampak berjalan diatas roda kolektif, khususnya jajaran koordinator. Konsolidasi antar koordinator acapkali terjadi dalam rapat-rapat, baik yang bersifat internal yayasan maupun yang bersifat gabungan lintas unit di madrasah. Perencanaan, penetapan atau keputusan seringkali terjadi dalam internal itu atau malah muncul tatkal bersama dengan unit. Kenyataan ini menunjukkan bahwa monopoli seseorang dalam pengendalian keputusan sedikit demi sedikit sudah mulai terberangus oleh dominasi kebersamaan.

Secara umum, tugas  dan wewenang jajaran Koordinator sebagai berikut :

Koordinator Pendidikan melakukan koordinasi, konsolidasi dan kontroling pada sisi akademik. Dimensi ini dianggap terlalu lebar dan berat, maka dibentuk wakil-wakil, yaitu:

Wakil Koordinator Kurikulum, sebagai pengelola dan pengawas dua hal: 1) Keguruan, yaitu tenaga pendidikan dan tenaga kependidikan. 2) Kurikulum, yaitu proses pembelajaran, sebaran materi, tujuan dan target kesiswaan.

Wakil Koordinator Keuangan dan Manajemen, sebagai pengelola dan pengawas manajemen keuangan yang meliputi penganggaran dan pelaporan yang berorientasi efisiensi.

Wakil Koordinator SDM (Sumber Daya Manusia) sebagai pengelola dan pengawas mutu pendidikan dan tenaga pendidik yang meliputi pengembangan dan peningkatan kualitas pendidik.

Koordinator Kepesantrenan melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan pesantren-pesantren yang berafiliasi dengan madrasah Raudlatul Ulum dan semua pesantren yang berada di desa Ganjaran.

Koordinator Sarpras melakukan koordinasi, konsolidasi dan pengelolaan pada sisi pengembangan, pembangunan dan peningkatan mutu fisik.

Koordinator Perwakafan melakukan pemeliharaan, pengelolaan dan pengembangan wakaf yang dimiliki oleh YPRU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: