SENGSARA DI PESANTREN MEMBUAT TERAMPIL

Semenjak tahun 2007, pondok pesantren Raudlatul Ulum I telah memiliki tambahan lahan  produktif seluas 7500 m., setelah sebelumnya telah mempunyai tanah yang sama tetapi sangat terbatas. Dengan tanah selebar itu, pesantren RU I dapat menuai penghasilan kurang lebih 7 juta pertahun.

Hasyim Khan

Hasyim Khan

Sehabis bulan Ramadlan tahun ini, pesantren juga berhasil mengantongi rupiah sebesar 11 juta dari hasil penarikan zakat yang dikumpulkan dari sebagian alumni dan partisipan. Padahal upaya pengumpulan hasil kewajiban umat muslim itu belum menyeluruh kepada semua lapisan alumni dan partisipan di daerah-daerah sehingga hasil zakat yang dapat diperoleh tidak sebesar potensi alumni dan partisipan yang ada,  tetapi langkah-langkah awal menuju mobilisisasi dana zakat untuk pesantren telah tercipta. Lalu siapa tokoh di balik terobosan-terobosan buat pesantren untuk memperoleh dana ? Dialah Bapak Hasyim Khan.

Orang yang biasa di panggil Pak Hasyim Khan ini lahir pada 21 Juli 1955 di Malang, tepatnya desa Ganjaran Kecamatan Gondanglegi. Pendidikan yang sempat diserap oleh ayah satu anak ini, selain pengajaran dasar-dasar agama dari orang tuanya sendiri, ialah pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Raudlatul Ulum yang lulus pada tahun 1968, kemudian melanjutkan ke jenjang Madrasah Tsanawiyah yang lulus pada tahun 1970. sedangkan pada tahun 1975, Hasyim muda lulus sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) dengan memperoleh ijazah lokal. “Iyah, ijazah yang disebut oleh teman-teman dengan ijazah yarfa’il. Karena di sudut atas ijazah itu terdapat tulisan ayat tersebut,” cetusnya.  Menurutnya, ia tidak mengikuti ujian negeri pada sekolah yang dikepalai oleh (almarhum) Drs KH Mursyid Alifi itu faktornya karena terbentur biaya.

Pada tahun 1965, adik Ustadz Asmuni (Guru Senior Madrasah Ibtidaiyah Raudlatul Ulum) itu dititipkan oleh ayahnya kepada KH Yahya Syabrawi untuk ber-tabaruk (mencari barokah) di pesantren Raudlatul Ulum I, ketika ia duduk di kelas 4 Ibtidaiyah sekolah itu. Belajar dengan keadaan ekonomi kekurangan sudah terlihat di pesantren ini. “Waktu mondok itu, saya kadang dikirim oleh orang tua kadang juga enggak diberi uang sampai berbulan-bulan,”  ceritanya.

Lalu bagaimana mensiasati kekurangan dana ? Perokok berat ini berkisah bahwa banyak jalan yang dapat ia tempuh. “Saya banyak teman waktu di pondok itu. Karenanya, hampir seluruh urusan-urusan atau kesulitan yang saya temui dapat terselesaikan dengan berkat adanya teman. Kadang-kadang saya minta beras sama sahabat yang kelihatannya memiliki beras berlebih. Sebab, di pondok, pada masa saya di situ, santri memasak sendiri itu lumrah. Nah, beras mereka diletakkan di dalam kotak yang ditaruh di depan kamar. Oleh karenanya, santri yang masih banyak beras atau yang sudah menipis dapat kelihatan dengan mudah. Bermodal akrab dengan para sahabat, saya bisa masak.” Kisahnya.

Menurut orang yang humoris ini, untuk keluar dari lilitan kekurangan di pesantren, terutama saat rasa lapar mengganggu perut, terkadang ia harus bergurau dengan tidak segan-segan berlindung di balik hadits Nabi Muhammad saw. “Misalnya ada teman santri yang sedang memasak, kebetulan saya lewat. Pura-pura saya tanya dia, wah masak nih ? Yah, Syim, jawab dia. Saya tanya lagi, berapa orang ? 3 tiga orang. Kata Nabi makanan untuk 3 orang cukup buat 4 orang. Akhirnya saya dipersilahkan juga untuk nimbrung.” Ceritanya lagi.

Dari sekian cara berkelit dari jeratan kekurangan biaya di “penjara suci” yang dilakukan oleh mantan Wakil Ketua Pengurus periode (almarhum) Bapak Ali Wafa masa bakti 1971/1972 itu adalah keterampilannya memanfaatkan momen sehingga dapat menghasilkan rupiah. Pada saat berada di pesantren, Bapak yang pernah menjabat Ketua Depatemen Keamanan Pesantren periode 1975/1978 itu, mengkoordinasi persepakbolaan yang diminati oleh sebagian santri, diantaranya mengurus pemberangkatan pemain dan sporter “anak-anak pesantren” ke kandang lawan. “Bayangkan saja, biaya pertandingan untuk sekali pertandingan berkisar tujuh ribu per-anak. Teman-teman santri itu saya tarik uang iuran sepuluh ribuan per-anak. Nah, masih ada sisa tiga ribu kan ? Bagitu itu, sebagian saya masukkan kas dan sebagian yang lain terselip di kantong sendiri.” Cetus  salah satu Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Mansyaul Ulum Ganjaran ini.

Pada saat duduk di kelas III Madrasah Tsanawiyah Raudlatul Ulum, Hasyim memberanikan mengutarakan (matur) kepada KH Qoffal Syabrawi persoalan minimnya dana yang dimiliki orang tua sementara saudara-saudaranya yang harus dibiayai juga telah menunggu. Ketika disowani oleh Hasyim Khan, kiai yang menjadi Koordinator Madrasah Raudlatul Ulum itu menjawab, “ya sudah, kamu bebas bayar,” kata adik kiai Yahya Syabrawi sebagaimana ditirukan oleh Bapak Hasyim Khan.

Problematika kehidupan di masa belajar yang dihadapi Hasyim ternyata membawa hikmah besar bagi pembentukan dan perkembangan kepribadiannya tatkala sudah bergumul dengan masyarakat. Tantangan yang ditemui di pondok pesantren turut menciptakan diri Bapak yang hingga kini tetap menjadi Ketua Panitia Penggalian Dana PPRU I itu memiliki kepiawaian dalam hal mencari terobosan baru memperoleh dana yang dapat disumbangkan kepada pesantren.

Sosok seperti Bapak Hasyim Khan inilah yang dibutuhkan oleh kalangan pesantren RU I dalam hal upaya memobilisir dana untuk kepentingan pesantren. Dari sisi ini pihak pesantren merasa sangat miskin sumber daya yang bisa dijadikan ujung tombak perjuangan di tengah-tengah msyarakat. Panjang umur dalam barokah ilmu gurunya, Bapak Hasyim Khan menjalani hidup. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: