MEMBANDING ANTARA K2Pi DAN KELAS REGULER STAI AL-QOLAM

Ketika Moralitas Ternistakan

Ketika Moralitas Ternistakan

Sementara orang mengenal STAI Al-Qolam sebagai perguruan tinggi Islam yang menyelenggarakan perkuliahan di desa Putat Lor sebelah utara tiga kilometer dari arah kecamatan Gondanglegi. Padahal sebetulnya semenjak tahun akademik 2007 lalu STAI Al-Qolam sudah punya kelas baru yang kini bertempat di gedung MI putri Raudlatul Ulum. Sesuai dengan nama sebutannya, K2Pi (Kelas Khusus Putri) STAI Al-Qolam, kelas ini memang khusus bagi mahasiswi yang kebanyakan berasal dari pesantren-pesantren putri yang ada di desa Ganjaran. Hal yang membuat takjub dari proses pendidikan di K2Pi adalah mutu peserta didik tidak kalah dengan perkuliahan yang ada di Al-Qolam pusat (STAI Al-Qolam Putat Lor) khususnya kelas reguler, meskipun fasilitas yang dimiliki K2Pi kurang memadai untuk pelayanan kebutuhan belajar mahasiswi. Hal inilah yang menarik untuk kita kaji dan di dalami.

 

K2Pi Dalam Dinamika Sejarah

Atas dasar beberapa hal, STAI Al-Qolam membuka kelas baru yang tidak berada di desa Putat Lor. Alasan-alasan pembukaan itu pada intinya tersimpulkan dalam beberapa hal: 1) Untuk mengakomodir beberapa keinginan orang yang berkehendak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Utama para santri putri dari pesantren-pesantren di desa Ganjaran yang sebagian pesantrennya memberlakukan prosedur perizinan yang lumayan ketat, misalnya pesantren RU I putri atau pesantren Miftahul Ulum (RU IV) putri. 2) Menyediakan perkuliahan bagi para guru perempuan dari sekolah-sekolah swasta, utamanya madrasah-madrasah di desa Ganjaran, yang belum memiliki ijazah S1 sebagai bagian dari pemenuhan tuntutan persyaratan sertifikasi guru.

Proses munculnya kelas khusus ini dimulai dari perbincangan-perbincangan antar Pimpinan STAI Al-Qolam dan dosen  yang tergabung dalam Tim Akreditasi PAI 2007 STAI Al-Qolam. Perbincangan ini kemudian dilanjutkan dengan rapat-rapat serius yang menghasilkan beberapa keputusan, diantaranya, Koordinator Pelaksana kelas khusus ini dipercayakan kepada Abdurrahman Said, tempat pelaksanaan kelas ini disepakati meminjam gedung Madrasah Diniyah Raudlatul Ulum I dan sebagai langkah awal Bapak M. Taqrib, selaku Ketua STAI Al-Qolam ketika itu, dimohon melakukan pendekatan kepada Pengasuh PPRU I, KH Mukhlis Yahya dan Kepala Madin, Gus Nasihuddin Khozin. Meskipun terdapat hambatan-hambatan yang acapkali bersumber dari waktu dan kesempatan, tetapi akhirnya keputusan-keputusan penting ini terlaksana sesuai perencanaan. Abdurrahman Said yang ditunjuk sebagai Koordinator Pelaksana berhasil merancang anggaran keuangan, rencana pelaksanaan, kalender pendidikan dan bahkan putra pertama KH Said Yahya inilah yang mengusulkan agar kelas khusus ini dinamai “K2Pi” yang kemudian disepakati tanpa ada pertentangan. Begitu pula Bapak Taqrib dengan dibarengi Bapak Jazari (Katua I), Bapak Syamsul A’dlom (Ketua II) dan Bapak Nur Qomari (Ketua III) berhasil melakukan negosiasi dengan pihak yang memiliki otoritas di PPRU I. Dorongan dari pengasuh serta dukungan penuh pihak Madin RU I memuluskan rencana pengadaan kelas khusus milik STAI Al-Qolam di desa santri itu.

Sebagai keinginan sekaligus tujuan yang melatarbelakangi lahirnya K2Pi, dua hal tersebut memang betul-betul menjadi kenyataan. Pada angkatan pertama, mahasiswi yang merasakan perkuliahan perdana mayoritas terdiri dari para ibu guru di madrasah desa Ganjaran dan sekitarnya sedangkan selebihnya merupakan para santri putri senior pesantren di desa itu, terutama  pesantren RU I putri dan pesantren Miftahul Ulum (RU IV) putri. Pada perkembangan selanjutnya, peserta didik dalam setiap angkatan didominasi oleh para santri putri dari pesantren-pesantren yang ada di Ganjaran.

Pada pertengahan tahun 2009, K2Pi pindah ke MI RU putri karena menjawab tuntutan sebagian pihak agar pendidikan sekolah tinggi yang di kelola STAI Al-Qolam itu betul-betul milik semua pihak yang ada di Ganjaran. Sebab, selama perkuliahan dilaksanakan di Madin RU I memunculkan kesan seakan-akan K2Pi dipunyai satu lembaga dan dipandang keberadaannya bersifat eksklusif. Pada tahun itu pula Koordinator Pelaksana K2Pi berpindah tangan dari Abdurrahman Said ke Aisyah Atok, karena Gus Dur – begitu Abdurrahman Said itu dipanggil – dipercaya untuk menangani LP3M.

K2Pi Dalam Dinamika Kurikulum

Secara umum proses pembelajaran, mulai dari dosen, waktu dan kalender pendidikan, ada yang berbeda dengan kelas reguler di STAI Al-Qolam pusat dan ada pula yang sama. Tenaga pengajar hampir-hampir tidak terdapat kesenjangan antar keduanya, hanya beberapa pendidik yang murni memiliki waktu mengajar di K2Pi, itupun karena alasan kesempatan. Hal yang dipandang agak berbeda pada soal kalender, dimana tatap muka perkuliahan lebih singkat dibanding kelas reguler di STAI Al-Qolam pusat, yaitu 3,5 tahun. Oleh karena itu, penyampaian materi masing-masing matakuliah dipadatkan sesuai ketersediaan dalam kalender pendidikan, keculai matakuliah yang memiliki relevansi dengan materi PAI/AS. Pemadatan itu tentu saja berpengaruh terhadap pembuatan kalender pendidikan yang cenderung mempunyai jarak perbedaan dengan kalender pendidikan yang disusun oleh STAI Al-Qolam pusat untuk kelas reguler.

Sejak awal berdirinya, penanganan semua administrasi dan manajemen akademik K2Pi memang bersifat indepen dari pihak manapun, termasuk eksistensi STAI Al-Qolam pusat dalam hirarki struktural oraganisasinya tidak berwenang melakukan intervensi kebijakan kecuali hanya sebatas hubungan konsultatif dan kontroling belaka. Makanya, dari sisi waktu perkuliahan dan pengelolaan keuangan, K2Pi memiliki kuasa penuh untuk menentukan arah kebijakan secara mandiri tanpa terikat begitu dalam pada dimensi manajerial dari siapapun. Kalaupun standarisasi keuangan dan kalender pendidikan terkadang berkiblat kepada STAI Al-Qolam pusat, hal itu dilakukan hanya dalam rangka penyesuaian saja bukan berarti mengekor dalam arti “taklid buta” pada STAI Al-Qolam pusat. Waktu yang singkat inilah merupakan salah satu keuntungan mahasiswi K2Pi dibanding para mahasiswa kelas reguler STAI Al-Qolam pusat yang membutuhkan minimal waktu 4 tahun atau bahkan lebih. Nilai tambah lain yang dipunyai oleh peserta didik K2Pi ialah mutu pendidikan yang tak kalah dibandingkan anak didik kelas reguler STAI Al-Qolam pusat sebab materi-materi pokok Prodi ditempuh dalam waktu yang disesuaikan dengan bobot SKS. Penjelasan lebih rinci dapat dilihat dalam tabel berikut:

Kelompok Matakuliah

SKS

Pelaksanaan

MK Pengembangan Kepribadian (MPK)

57

Paruh-1/3 semester
MK Keilmuan dan Keteranpilan (MKK)

22

Paruh-1/3 semester
MK Keahlian Berkarya (MKB)

48

Semester penuh
MK Perilaku Berkarya (MPB)

9

Semester penuh
MK Berkehidupan Bermasyarakat (MBB)

8

Semester penuh
MK Keahlian Alternatif (MKA)

6

Paruh-1/3 semester

Pada penjelasan penyelenggaraan matakuliah (MK) sebagaimana tertera dalam tabel terlihat 65 SKS dilaksanakan pada semester penuh, sementara 85 SKS dari sekian matakuliah diselenggarakan dalam separuh (1/2) atau 1/3 semester. Pemadatan sebagian matakuliah tersebut bukan berarti mengkebiri hak yang harus diperoleh oleh mahasiswi K2Pi, karena sebagian dasar-dasar materi sudah dikenal bahkan terkadang sudah dikuasai sebelum mereka duduk di bangku kuliah, seperti matakuliah Bahasa Arab, Bimbingan Membaca Kitab (BMK), Hadits Tarbawi, Tafsir Tarbawi dan Ushul Fiqh. Kebanyakan matakuliah ini sudah diajarkan di pesantren-pesantren, meskipun metode penyampaian dan pengalaman belajarnya tidak selalu sama dengan dunia perguruan tinggi. Oleh karena itu, pemadatan matakuliah menjadi paruh dan 1/3 semester bukan merupakan langkah K2Pi yang serta merta dapat dianggap menganiaya pencari ilmu pengetahuan.

K2Pi Dalam Dinamika Keterbatasan

Dalam realitas pemadatan perkuliahan yang dilakukan oleh K2Pi tentu saja memiliki implikasi kuat terhadap cara mensikapi dan berperilaku para mahasiswi dalam masa perkuliahan yang singkat. Semakin pandai dan tangkas seorang mahasiswi memanfaatkan waktu dalam lika-liku masa perkuliahan yang serba cepat, maka perolehan pengetahuan dan pengalaman belajar kian menggunung. Faktanya, mahasiswi K2Pi sanggup menghadapi dan mengantisipasi cara menyerap materi dengan baik, kendatipun gilasan roda perkuliahan berproses dalam pemadatan materi begitu singkat. Hal ini terbukti dengan desain perkuliahan yang ditawarkan dosen selalu diamini oleh para mahasiswi dengan tidak menafikan sikap kritis. Ketidakjumudan mereka tampak pada situasi forum kelas yang cenderung hidup dalam nuansa dialogis penuh keakraban, walaupun sesekali debat dan sanggahan menghiasi ruang diskusi. Sesuatu yang membuat tercengang banyak pengajar yang masuk di K2Pi adalah penyelesaian tugas-tugas yang disodorkan oleh setiap dosen dilaksanakan dengan baik dan tuntas. Baik, karena target waktu yang diberikan selalu ditepati. Tuntas, karena batasan yang dipersyaratkan pasti terpenuhi. Padahal jika ditelisik lebih jauh, kebanyakan keadaan para mahasiswi K2Pi hidup diantara tembok pesantren yang hanya memberi pilihan wajib masuk dibalik pagar “ketidakbolehan” kecuali ada izin Pengasuh pesantren. Di tambah ketersediaan fasilitas yang dibutuhkan oleh pelajar setingkat perguruan tinggi sangat jauh dari memadai, mulai dari refrensi buku sampai penggunaan internet. Kalaupun ada hal yang diperlukan itu, harus berkejaran dengan waktu karena selaksa kewajiban selalu membuntutinya setiap saat. Tetapi keterbatasan yang mengelilingi mereka bukan merupakan batu sandungan yang menghalangi asa, justeru situasi demikian itu dianggap tetesan pupuk kandang yang menjadikan subur tanaman dengan wujudnya.

Kondisi demikian hampir-hampir jarang diketemukan di kelas reguler STAI Al-Qolam pusat. Sebagian besar pesarta didik, terutama mahasiswi, seringkali bersikap pasif serta lebih memilih “tawadhu” tertunduk malu daripada bersuara vokal dalam forum diskusi yang disediakan oleh dosen. Kalaupun mengeluarkan pendapat atau malah terjadi adu mulut, terkadang tidak berdasarkan argumntasi ilmiah sehingga keberlangsungan diskusi mereka hanya berkutat pada perdebatan kusir yang tak pernah berpenghujung. Belum lagi motivasi diri, baik intrinsik maupun ekstrinsik, seakan tak pernah merengkuh kepribadian kebanyakan mereka. Meskipun gaya hidup mereka dihiasi gemerlap fasilitas yang dihajati, tetapi belum mampu memecut “brutus” mereka agar berlari menuju dunia keilmuan.

Satu hal lagi yang membuat jarak antara K2Pi tidak terkejar oleh kelas reguler STAI Al-Qolam pusat ialah persoalan afektif peserta didik keduanya. Keterbelengguan para mahasiswi K2Pi dibawah otoritas doktrinasi sabda para Pengasuh pesantren ternyata menciptakan profil yang mempunyai jaminan moraliatas cukup tinggi, sementara kebebasan yang diperolah mahasiswa kelas reguler STAI Al-Qolam pusat acapkali menjerumuskan individu dari mereka ke dalam kubangan kehinaan etika yang terkadang sudah dimengerti tatkala sebelum menjadi mahasiswa. Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: