TATAKRAMA BERDOA

Para ulama fiqh, hadits dan sekelompok ulama berpendapat bahwa berdoa hukumnya sunnah, karena dianjurkan oleh Allah swt., dalam al-Quran. Hanya saja yang menjadi perbedaan pendapat ialah tentang keutamaan antara berdoa atau rela tidak berdoa. Sebagian mengemukakan bahwa berdoa adalah ibadah, karena dengan memanjatkan permohonan seseorang telah memperlihatkan kebutuhan dalam hidupnya. Di samping itu, keabsahan berdoa diperkuat dengan berbagai dalil yang terdapat dalam kitab suci dan hadits. Tetapi sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa sikap diam dengan tidak berdoa disertai rasa ridla terhadap “Sabda” Tuhan merupakan tindakan penghambaan yang lebih sempurna dan lebih utama ketimbang menengadah meminta-minta kepada Sang Pengasih.

Tetapi terlepas dari apa yang terjadi dalam tarik ulur pendapat tentang keutamaan berdoa atau diam tanpa doa, sebagian ulama telah merumuskan tatakrama berdoa (adab al-du’a) dalam beberapa norma kesopanan bagi seseorang yang hendak memanjatkan doa:

Pertama, agar ia memperhatikan waktu-waktu yang mulia seperti hari wukuf di Arafah, bulan Ramadan, hari Jumat, sepertiga malam atau pada jam sahur.

Kedua, agar ia mencari kesempatan keadaan-keadaan yang dianggap utama seperti ketika sujud, di tengah-tengah kecamuk pertempuran, tatkala turun hujan, waktu iqamah shalat atau pada saat hati sedang merasa gembira.

Ketiga, menghadap Qiblat dan mengangkat kedua telapak tangan hingga bagian dalamnya terlihat.

Jika menengadahkan tangan menjadi bagian dari tatakrama  dalam berdoa, padalah Allah swt, tidak memerlukan dimensi tempat, lalu apa makna mengangkat tangan itu ? Jawaban dari dua pertanyaan tersebut dapat diberikan dari dua sisi. [1] Bahwa ada tempat yang dibuat fokus sebagai perlambang untuk ibadah, seperti menghadap Ka’bah – Bait Allah, rumah-Nya – ketika  shalat, atau wajah yang diletakkan di atas tanah, padahal Tuhan Maha Suci dari bersifat memiliki rumah dan tempat sujud. Oleh karena itu, arah langit dijadikan sebatas simbolisasi berdoa agar konsentrasi yang diimpikan dalam doa betul-betul terwujud. [2] Bahwa langit digambarkan sebagai tempat turunnya rejeki, wahyu, rahmat dan berkah dari Tuhan sebagaimana menetes dari sana. Langit juga dilukiskan sebagai tempat penerimaan amal pekerjaan manusia, tempat bagi ruh para Nabi dan tempat adanya surga dan neraka. Oleh karenanya, doa diarahkan ke sisi langit seperti halnya segala macam yang ghaib diyakini berada di sana.

Dalam soal mengangkat tangan pada saat berdoa masih menyisakan tanya yang lain, yaitu bolehkan mengangkat tangan dalam keadaan tangan itu najis ? Jawabnya adalah makruh apabila tanpa penutup/penghalang dan hilang kemakruhan jika ada penutup/penghalang, sebagaimana haram memegang mushaf al-Quran apabila tanpa penutup/penghalang, tetapi menjadi hilang kerahaman jika ada penutup/penghalang. Dengan cara demikian, hukum haram bisa hilang pada masalah mushaf al-Quran, apalagi hukum makruh pada persoalan menengadahkan tangan ketika berdoa.

Permasalahan mengangkat tangan dalam berdoa di luar shalat berlaku untuk semua jenis doa, kecuali doa yang dipanjatkan tatkala khutbah Jumat. Hukumnya makruh bagi khatib untuk mengangkat tangan ketika berdoa.

Seyogyanya bagi orang yang berdoa mengusap wajahnya dengan tapak tangannya ketika doa sudah selesai. Dan jika memandang wajahnya ketika berdoa, maka boleh saja. Sementara larangan sebagaimana keterangan hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah merupakan larangan yang khusus doa pada saat shalat.

Keempat, memperlahan (tidak mengeraskan) suara ketika berdoa, sebab Allah swt, bukan Tuhan yang tuli. Di samping itu, sikap tidak mengeraskan suara (tadlarru’ wa khufyah) dalam berdoa mengesankan keikhlasan.

Kelima, tidak memaksakan lantunan doa dengan irama lagu (al-saja’) dan tidak berlebihan dalam materi doa. Sebab, terkadang ada orang berdoa dengan berlebihan tanpa memahami kemaslahatan yang patut didapati oleh dirinya sesuai kondisi yang meliputinya. Hal terbaik ialah memanjatkan doa-doa yang berasal dari Nabi dan ulama salaf dengan suara merendah tanpa kesan menunjukkan kefasihan ucapan.

Keenam, merasa rendah diri, tenang dan merasa bergetar hatinya. Sebab, terkadang jika Allah swt, mencintai hamba-Nya, maka memberikan cobaan sehingga Tuhan mendengar rintihannya.

Ketujuh, agar dia merasa mantap dengan permohonannya, meyakini terkabulnya doa itu (ijabah du’aih), dan memiliki pengharapan dalam doanya. Sebab, Iblis saja dikabulkan permintaan, apalagi pemohon yang mukmin.

Kedelapan, agar ia mendesak dan mengulang sampai tiga kali dan tidak menganggap lamban keterkabulannya doa yang dipanjatkan (al-istibtha’ bi al-ijabah).

Kesembilan, hendaknya ia membuka doa dengan menyebut nama Allah (dzikir) dan shalawat kepada Nabi Muhammad saw, dan menutupnya dengan hal tersebut juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: