SHALAT BERJAMAAH

Hukum Shalat Berjamaah

Fardu kifayah bagi laki-laki yang sudah menetap rumah.

Fardu a’in untuk shalat Jumat.

Syarat-syarat Menjadi Ma’mum

[1] Berniat menjadi ma’mum

[2] Tidak mendahului imam dalam masalah tempat

[3] Mengetahui perubahan/perpindahan rukunnya imam, meski dengan perantara

[4] Berjarak dekat dengan imam selain di dalam masjid

[5] Tidak mendahului atau terlambat dari imam sampai 2 (dua) rukun fi’li tanpa udzur

[6] Sesuai dalam sunnah-sunnah yang umpama berbeda dengan imam menjadi tidak pantas, seperti tasyahud awal atau sujud sahwi

[7] Tidak ada penghalang di antara keduanya

[8] Tidak mendahului atau bersamaan dengan imam dalam soal takbir al-ihram

[9] Tidak meyakini kewajiban pengulangan shalat bagi imam.

Orang yang Boleh Dijadikan Imam

Boleh berma’mum kepada semua orang yang sah shalatnya, kecuali laki-laki menjadi ma’mum perempuan, orang pandai membaca (fasih) berma,mum kepada orang yang tidak pandai membaca, dan orang yang melakukan shalat hadir (ada’an) berma’mum kepada orang yang melaksanakan shalat yang dihutang (qada’an).

Orang yang Makruh Dijadikan Imam

Makruh shalat dibelakang (menjadi ma’mum)

[1] Orang yang tidak disukai oleh mayoritas masyarakat

[2] Anak kecil (shoby)

[3] Orang salah bacaannya dengan kesalahan yang tidak merubah makna

[4] Orang yang belum di sunat (khitan), meskipun sudah dewasa (baligh)

[5] Orang yang tidak terjaga dari najis.

PRIHAL MENJADI MA’MUM

Ma’mum  Ada Dua Macam :

[1] Ma’mum masbuq (yang ketinggalan)

[2] Ma’mum Muwafiq  (yang bersama)

Ma’mum Masbuq

Ma’mum Masbuq adalah orang yang tidak menemukan waktu untuk membaca surah al-Fatihah bersama imam.

Ma’mum Muwafiq

Ma’mum Muwafiq adalah orang yang menemukan waktu untuk membaca surah al-Fatihah bersama imam.

Hukum Masbuq

[1] Apabila dia menemukan imam dalam keadaan ruku’, maka ma’mum itu melaksanakan ruku’ bersama imam. Ma’mum masbuq tersebut tidak perlu membaca surah al-Fatihah dan bagi dia sudah dianggap melaksanakan rakaat jika dia dapat tenang dalam ruku’ (tuma’ninah) bersama imam

[2]  Apabila dia menemukan imam dalam berdiri tetapi imam keburu melakukan ruku’ sebelum ma’mum itu menyelesaikan bacaan surah al-Fatihah, ma’mum itu melaksanakan ruku’ bersama imam jika ma’mum tersebut tidak membaca doa iftitah atau membaca ta’auwudz. Status sisa surah al-Fatihah yang belum selesai tadi sudah bukan tanggungan ma’mum masbuq itu

[3]   Apabila dia menemukan imam dalam berdiri tetapi ma’mum melaksanakan doa iftitah atau ta’auwudz, kemudian imam ruku’ sebelum ma’mum menyelesaikan bacaan surah al-Fatihah lalu tertinggal dalam beberapa saat yang digunakan untuk membaca doa iftitah atau ta’auwudz. Kalau ma’mum menemukan imam pada saat ruku’, maka ma’mum dihitung menemukan satu rakaat. Kalau ma’mum menemukan imam sudah berdiri dari ruku’ (i’tidal) sementara ma’mum belum melakukan ruku’, maka ma’mum dihitung kehilangan satu rakaat. Kalau ma’mum menemukan imam sudah sujud sementara ma’mum belum selesai bacaan surah al-Fatihah, maka batal shalatnya jika tidak berniat berpisah (al-mufaraqah).

Hukum Muwafiq

[1]      Wajib bagi ma’mum menyempurnakan bacaan surah al-Fatihah, meski ma’mum ketinggalan imam sebab bacaan surah tersebut hingga imam sudah melaksanakan ruku’

[2]   Apabila ma’mum masih dalam keadaan membaca surah al-Fatihah, maka ketinggalan diperbolehkan asalkan tidak lebih dari 3 (tiga) dengan syarat adanya alasan (udzur) dari beberapa alasan-alasan, yaitu:

Pertama, apabila ma’mum  muwafiq lambat bacaannya (bukan was-was), sementara imam memiliki kecepatan bacaan sedang.

Kedua, apabila ma’mum muwafiq lupa membaca surah al-Fatihah, kemudian ingat sebelum melakukan ruku’ bersama imam.

Jika  ingatnya setelah ruku’, maka tidak boleh sekali-kali membaca surah al-Fatihah bahkan terus saja mengikuti imam dan menambah satu rakaat setelah salamnya imam.

Ketiga, apabila ma’mum muwafiq membaca doa iftitah atau ta’auwudz dan mengira bahwa ada kesempatan membaca surah al-Fatihah, tetapi ternyata tidak ada waktu membacanya.

Jika nyata kehilangan kesempatan membaca surah al-Fatihah dan tidak menemukan imam dalam ruku’, maka ma’mum muwafiq dihitung kehilangan satu rakaat dan harus menambah satu rakaat lagi setelah salamnya imam.

(al-Mabadi’ al-Fiqhiyah ala Madzhab al-Imam al-Syafii, karangan Umar Abduljabbar. Cetakan akhir, tahun 1379 H. Juz III, hal. 33-37)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: