HIKMAH WALIMAH AL-‘ARUSY

Walimah al-arusy memang sebuah “pesta” yang istimewa karena diperintahkan oleh Rasulillah Muhammad saw, dalam berbagai riwayat hadits untuk dilaksanakan oleh setiap umat muslim yang menyelenggarakan akad nikah, meskipun pesta tersebut dilakukan sesuai dengan kemampuan.

Perintah Nabi Muhammad saw, untuk mengadakan walimah al-arusy ini sudah tentu terkandung hikmah dan kemanfaatan dibelakangnnya. Hikmah tersebut antara lain:

Pertama, persaksian (al-isytisyhad). Persaksian demikian ini diselenggarakan karena kedua mempelai telah sah dan berstatus resmi sebagai pasangan suami-istri. Dengan status yang baru ini, maka diketahui oleh khalayak umum bahwa sesuatu yang haram bagi kedua pasangan itu kini menjadi halam, bahkan termasuk bagian dari ibadah karena ketundukan kedua mempelai terhadap ketentuan yang diwajibkan oleh Allah swt, dan sunnah Rasulillah Muhammad saw.

Konsekwensi yang muncul berikut setelah “aqd al-nikah”  ialah lahirnya hak-hak dan kewajiban-kewajiban menyangkut kehidupan diantara mereka berdua sebagai suami-istri. Bahkan ada sikap-sikap hidup yang harus di rubah dan diadaptasikan menyangkut kehidupan antara suami atau istri dengan keluarga masing-masing keduanya. Hak-hak dan kewajiban-kewajiban dan sikap-sikap yang harus ditunaikan tersebut bersumber dari tuntunan Kitabullah (al-Quran) Sunnah Rasulillah saw (al-Hadits).

Dengan melalui persaksian yang terkandung di dalam walimah al-arusy itu diharapkan kedua mempelai jauh dari kemungkinan-kemungkinan malapetaka (fitnah) yang timbul dari interaksi antara laki-laki dan perempuan. Keterjagaan keduanya dapat dimungkinkan, karena beberapa hal: [1] Rasa kehati-hatian kedua mempelai dalam membatasi kebebasan pergaulan, karena perasaan mereka berdua sudah “dibelenggu” oleh tersiarnya ikatan di antara keduanya melalui walimah al-arusy. [2] Perubahan status yang ada pada masing-masing mempelai telah diketahui oleh banyak orang. Sehingga dengan begitu, terdapat batas pemisah yang mempersempit tingkah laku, pola dan sikap hidup keduanya. Kebebasan hidup yang pernah dienyam tatkala mereka masih hidup sendiri, kini mulai mengurang pada satu sisi dan bertambah pada sisi hidup yang lain.

Kedua, mengambil kemanfaatan doa (al-intifa’ bi al-du’a). Restu dan doa dari semua yang menghadiri dan sekaligus menyaksikan walimah al-arusy, terutama dari orang tua kedua mempelai, para ulama dan tokoh masyarakat amat penting bagi awal perjalanan bahtera rumah tangga keduanya. Sebagaimana diyakini di dalam ajaran Islam bahwa doa merupakan salah satu ikhtiar manusia yang dibutuhkan dalam mengarungi kehidupan yang jalaninya. Oleh karenanya, di dalam momen jenjang kehidupan kedua mempelai, hantaran dengan restu dan doa merupakan salah satu upaya bangunan rumah tangga yang akan dibina oleh keduanya dalam mengarungi perjalanan kehidupan betul-betul kokoh dan kuat. Biduk rumah tangga yang disusun sejak awal diharapkan memiliki kekuatan dan kemampuan, meski badai kehidupan menerpa keduanya.

Walapun demikian, restu dan doa bukanlah satu-satu yang dapat menjadikan rumah tangga kuat dan kokoh, tetapi setidaknya ada tiga hal yang melandasi kekokohan rumah tangga :

1. Akad nikah merupakan ikatan perjanjian yang kokoh.

Di dalam al-Quran, “aqd al-nikah” digambarkan sebagai  ikatan perjanjian yang kokoh (mitsaqan ghalidlan) sebagaimana difirmankan oleh Allah swt, (QS. Al-Nisa:21). Pernikahan dilukiskan dengan ikatan yang kokoh, karena pernikahan melibatkan hampir seluruh potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia, mulai dari fikiran, emosi, perasaan, fisik, material dan roh. Seluruh potensi yang terdapat pada diri manusia itu berbaur menjadi satu sehingga membentuk ikatan yang tidak terpisahkan. Tatkala salah satu atau sebagian dari potensi-potensi tersebut sudah mulai mengalami kehancuran atau tercerai berai, maka tentu saja ikatan yang terbingkai dalam “aqd al-nikah” menjadi terlepas.

2. Ada konsekwensi yuridis dan metafisis.

Kehidupan rumah tangga yang diikat dengan “aqd al-nikah” jelas berbeda dengan kehidupan di luar koridor pernikahan. Ada “akibat-akibat” yang menyertai kehidupan dalam lingkaran pernikahan yang seharusnya dijauhi oleh kedua mempelai. Sebab, apabila batasan-batasan yang sudah ditentukan dilanggar, maka ada konsekwensi-konsekwensi pudarnya ikatan pernikahan. Perceraian merupakan bagian dari akibat macam-macm “talak”. Sementara penyebab terjatuhnya talak itulah yang harus dihindari semaksimal mungkin. Ancaman jatuhnya talak atau perceraian yang diatur dalam ajaran agama ini diharapkan menjadi semacam rambu-rambu yang menyebabkan kedua mempelai bisa berhati-hati dalam melaksnakan pergaulan diantara mereka berdua.

Tetapi meski konsekwensi itu tetap terjadi, baik dalam perceraian atau karena kematian, ikatan kekeluargaan tidak serta merta  menjadi bubar dan hilang. Seorang anak (gadis) misalnya, sebagai buah pernikahan, ia tetap membutuhkan ayah kandungnya untuk menjadi wali pernikahannya, meski ayahnya telah bercerai dari ibunya. Seluruh anak tetap berkewajiban berlaku baik dan mendoakan kepada ayah-ibunya, walaupun keduanya telah dipanggil ke Rahmat Ilahi.

3. Pertemuan dua keluarga besar.

Dalam pandangan Nabi Muhammad saw, akad nikah tidak semata-mata ikatan dua anak manusia yang dijalin cinta kasih saja. Tetapi wujud pernikahan juga mempertemukan dua keluarga besar  yang memiliki latarbelakang adat istiadat dan kebudayaan yang berbeda. Hal ini tergambar dari kenyataan dalam agama bahwa kedua keluarga itu diberi peran yang proporsional dalam rangka menjaga dan mempertahankan keutuhan rumah tangga yang di bangun oleh kedua mempelai bila terjadi konflik di antara keduanya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah terkait dengan penyelesaian persoalan kedua mempelai yang dapat diperankan oleh dua keluarga besar (QS. Al-Nisa:35).

Dalam perspektif agama Islam, “aqd al-nikah” juga dapat bermakna simpul-simpul pertemuan dua adat dan kebudayaan berbeda yang merupakan upaya dan ikhtiar melelahkan. Tetapi agama Islam mencoba mempertemukan dalam perkenalan dua kebudayaan berbeda dalam konteks pernikahan. Tentu saja sikap dan langkah yang penuh perhitungan, kearifan, saling pengertian dan kesabaran merupakan dasar utama dalam menjembatani jarak dua budaya yang berbeda.

Sedemikian kompleks hubungan yang terjalin dalam ikatan pernikahan dan begitu jauh implikasi yang ditimbulkan, membuat “aqd al-nikah” memiliki nilai sakral yang selalu diagungkan. Oleh karenanya, salah besar anggapan sementara orang bahwa pernikahan hanya dihitung dengan pertimbangan-pertimbangan material belaka atau apalagi klaim wujud pernikahan demi untuk mengeruk kesenangan saja.

Pada hakikatnya, orang memutuskan untuk mengikat dirinya dengan tali pernikahan, berarti ia telah berani mengambil tugas dan tanggungjawab mulia. Oleh karenanya, Nabi Muhammad saw, mempersilahkan bagi mereka yang sudah siap lahir-batin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: