PERSOALAN TRADISI TAHLIL

Terhadap upacara ritual yang isi di dalamnya tahlil, masyarakat terbelah dalam mensikapi fenomena itu. Paling tidak, ada dua kelompok yang dinilai memiliki pandangan berbeda di tengah-tengah masyarakat :

1. Komunitas non nahdliyin:

Kelompok ini berpandangan bahwa praktek tahlil yang marak dilakukan masyarakat merupakan amalan pembodohan, tidak berdasar tuntunan dari Rasulallah saw, dan dapat dianggap sebagai kegiatan menyesatkan (bid’ah dlalalah)

2.  Golongan kaum nahdliyin:

Kelompok ini adalah pelaku kegiatan tahlil yang memiliki penilaian bahwa rutinitas ritual tersebut jelas bukan ajaran yang keluar dari jalur tuntunan Nabi Muhammad saw, (bid’ah), apalagi menyesatkan (dlalalah). Sebab, bagaimana mungkin praktek ritual semacam itu menjadi menyesatkan, padahal sudah banyak para ulama yang kemampuan keilmuan dan amalnya tidak diragukan lagi.

Di sinilah hukum tentang tahlil itu perlu diuarai kembali, agar berbagai kelompok menyadari bahwa pendapat yang pegangnya tentang tahlil tidak selamanya benar dan pendapat yang dipercaya orang lain tidak selalu salah. Dengan prinsip ini diharapkan akan tercipta kondisi kondusif bagi semua lapisan masyarakat.

Pengertian Tahlil

Pengertian tahlil yang dimaksud di sini ialah:

Suatu bacaan La Ilaha Illa Allah plus bacaan-bacaan tertentu tanpa mengikat yang pahalanya diniatkan kepada pihak-pihak yang dimaksudkan.

Hukum tahlil dengan pengertian di atas, memunculkan dua pendapat berbeda di antara para ulama:

  1. Golongan yang mengatakan bahwa pahala bacaan-bacaan sama sekali tidak bisa sampai kepada pihak yang dituju, termasuk orang mati. Kelompok ini diprakarsai oleh Imam Malik dan Imam Syafi’i serta sebagian pengikutnya (ashhab al-Syafi’iyah).

Dasar-dasar mereka:

a)      Al-Quran

وأن ليس للإنسان إلا ما سعى (النجم: 39)

لها ما كسبت وعليها ما اكتسبت (البقرة:286)

ولا تجزون إلا ما كنتم تعملون (يس:36)

b)      Al-Hadits

عن ابى هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به اوولد صالح يدعو له (رواه المسلم)

عن ابن عباس أنه  صلى الله عليه وسلم قال: لا يصلى احد عن احد ولا يصوم احد عن احد ولكن يطعم عنه مكان كل يوم مدا من حنطة (رواه النسائي)

عن نافع عن ابن عمر أنه صلى الله عليه وسلم قال: من مات وعليه صوم رمضان يطعم عنه (رواه ابن ليلى)

  1. Golongan yang mengatakan bahwa pahala bacaan-bacaan bisa sampai kepada pihak yang di tuju, termasuk mayit. Masuk ke dalam kelompok ini adalah Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad Ibn Hambal bersama sebagian pengikutnya (ashhab al-Hanabila), dan sebagian pengikut Imam Syafi’i (ashhab al-Syafi’iyah).

a)       Al-Quran

والذين جاؤا من بعدهم يقولون ربنا اغفرلنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان (الحشر: 10)

واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات (محمد:19)

b)      Al-Hadits

عن أبى عبد الرحمن عن عوف بن مالك : صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على جنازة فحفظت من دعائه وهو يقول: (اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه واكرم نزوله ووسع مدخله واغسله بالماء والثلج والبرد ونقه من الخطايا كما نقيت الثوب الابيض من الدنس وابدله دارا خيرا من داره واهلا خيرا من اهله وزوجا خيرا من زوجه وادخله الجنة واعذه من عذاب القبر ومن عذاب النار) حتى تمنيت ان اكون انا ذلك الميت (رواه المسلم)

عن عبد الله بن عمر قال صلى الله عليه وسلم: اذا مات احدكم فلا تحبسوه واسرعوا به الى قبره وليقراء عند رأسه بفاتحة البقرة وعند رجليه بخاتمة البقرة (رواه البيهاقى والطبرانى)

Kelompok kedua ini ternyata di dukung oleh banyak ulama, diantara mereka adalah :

1)      Imam Abu Hanifah dan sebagian besar pengikutnya (jumhur al-shhabih)

2)      Imam Ahmad Ibn Hambal dan sebagian besar pengikutnya (jumhur al-shhabih)

3)      Imam Nawawi

4)      Imam Ibn Hajr al-Haitami

5)      Imam al-Sayid Umar al-Barokat

6)      Al-allamah Ibn Qudamah

7)      Syaikh al-Islam Abu Abbas Ibn Taimiyah

8)      Imam al-Syaukani

9)      Imam al-Sya’rani

10)  Ibn Abi al-Iz al-Hanafi

11)  Al-allamah al-Syaikh Abd. Hamid al-Syarwani

12)  Al-allamah al-Imam Ahmad Ibn Qosim al-Abadi

13)  Al-Syaikh Sulaiman al-Bujairimi

14)  Al-Sayid Abi Bakr Ibn Muhammad Syatho

Dari beberapa uraian ini dapat kita pahami tradisi tahlil yang dilestarikan kaum Nahdliyin ternyata mengikuti beberapa ulama yang dinilai memiliki kualitas keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan, meski kalangan yang enggan dengan rutinitas tahlil dalam berbagai even itu harus tetap kita hargai pendapatnya, karena mereka juga bersandarkan pada dasar-dasar yang juga kuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: