PENUANGAN PESAN DALAM PROSES PENERJAMAHAN

Istilah “penuangan pesan” dalam ranah penterjamahan memang agak lebih sesuai dipakai ketimbang istilah “pengalihan” teks sumber kepada teks sasaran. Definisi terjamah sebagai ‘kerja transfer pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran’ merupakan definisi yang lebih bersifat realistis dan operasional. Namun demikian, sesungguhnya terjamahan yang ideal adalah terjamahan yang tidak hanya berupaya mentransfer pesan, namun juga seluruh teks sebagai totalitas, mulai dari bentuk lunguistik seperti susunan frase, susunan dan bentuk kalimat sampai kepada susunan implisit kalimat (al-tarakib al-batinah).

Hanya saja terjamahan semacam ini tergolong sikap utopia sebagian kalangan pelaku penterjamahan, mengingat bentuk-bentuk luar linguistik antara satu bahasa dengan bahasa yang lain, serta suasana budaya yang melingkarinya hampir-hampir mustahil untuk bisa sama persis hingga dapat dialihkan secara sempurna. Kalaupun umpama dilakukan dengan pemaksaan pengalihan bahasa sumber ke dalam behasa sasaran, hasil terjamahan tersebut biasanya justeru menjadi terjamahan yang ganjil menurut “rasa” bahasa sasaran. Hal ini dapat terjadi karena nuansa struktur gramatika dan style kalimat bahasa sumber terkadang tidak sama dengan bahasa sasaran.

Contoh, bahasa Arab yang diterjamahkan ke dalam bahasa Indonesia, jika dipahami sebagai pengalihan bahasa, maka kegiatan tersebut lebih tepat dianggap sebagai “pemaksaan jiwa bahasa” teks Arab kepada teks terjamahan bahasa Indonesia.

Disini dapat diangkat satu contoh dari bagaimana sulitnya mentransfer teks secara totalitas. Apabila ditelusuri struktur kalimat dalam bahasa Arab, maka secara mudah bisa digolongkan ke dalam dua bentuk:

[1] Ismiyah (nominal sentence)

[2] Fi’liyah (verbal sentence)

Dari dua bentuk tersebut di atas, kalau ditarik ke dalam bahasa Indonesia, maka yang didapati hanya satu bentuk, yaitu Ismiyah (nominal sentence). Sementara menterjamahkan bentuk-bentuk Fi’liyah (verbal sentence) ternyata lebih banyak digunakan daripada bentuk Ismiyah (nominal sentence) ke dalam bahasa Indonesia. Penetrjamahan dalam bentuk yang sama sangat sulit sekali, bahkan hampir-hampir mustahil.

Oleh karenanya, penerjamah harus tetap berusaha semaksimal mungkin mencari padanannya (equivalent) dalam bahasa sasaran dalam semua sisi yang berkaitan dengan kebahasaannya, baik dari aspek pesan, bentuk-bentuk linguistik, emosi penulis, suasana teks, maupun yang lainnya.

Penuangan padanan teks sumber bahasa ke dalam teks bahasa sasaran inilah yang menjadi inti dari tahap penuangan. Penuangan tidak selalu identik dengan penuangan ide, pikiran atau gagasan teks sumber bahasa belaka. Tetapi penuangan juga berhubungan dengan aspek-aspek lainnya. Hanya hal demikian ini perlu di ingat, apabila modal linguistik bahasa sasaran lebih miskin daripada bahasa sumber –- dan kondisi seperti ini sering terjadi dalam kasus penerjemahan dari bahasa dengan tingkat budaya yang tinggi ke dalam bahasa dengan derajat budaya yang lebih rendah –- maka yang harus dikejar oleh seorang penerjamah ialah menemukan pesan utama dari setiap satuan makna teks (al-wihdah al-ma’nawiyah).

Disinilah sebetulnya ketajaman firasat penerjamah dalam memilih kosa kata bahasa sasaran yang benar-benar sesuai dengan bahasa sumber diuji. Sebab, satuan makna teks (al-wihdah al-ma’nawiyah) tidak secara otomatis dapat ditemukan padanannya secara efektif dalam bahasa sasaran.

Oleh karena itulah, penerjamah harus betul-betul pandai, “cerdas” dan terampil dalam memilih padanan di dalam bahasa sasaran. Kepandaian, “kecerdasan” dan keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh penerjamah pada dasarnya dapat direngkuh dengan berbagai upaya, antara lain.

ü  Membolak-balik susunan kata dalam kalimat bahasa sasaran

ü  Memberikan tekanan dalam bahasa sasaran

ü  Mengurangi tekanan dalam bahasa sasaran

ü  Mengurangi keluasan makna yang dimiliki bahasa sumber

ü  Memberikan keluasan makna dalam bahasa sasaran

ü  Upaya-upaya penyesuaian yang dapat dikembangkan sesuai tingkat kemampuan yang dipunyai oleh penerjamah.

Kepandaian, “kecerdasan” dan keterampilan seperti ini harus di bangun mulai sejak dini dan terus dipelihara hingga betul-betul menjadi bagian dari dirinya sendiri. Akhirnya begitu seorang penerjamah yang memiliki “kepribadian“ dengan kriteria demikian itu, kegiatan terjamah tidak lagi menjadi persoalan yang menyesakkan dada. Karena baginya, orientasi terjamah minimal adalah bagaimana hasil terjamahan cukup mewakili pesan teks sumber, nikmat dan tidak ganjil.

Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa  terdapat dua kutub dalam proses penuangan ke dalam bahasa sasaran. Kutub pertama, hanya menuangkan maknanya saja. Kutub ini berstandart minimal. Kutub kedua, menerjamah teks secara totalitas. Sedangkan kutub ini memakai ukuran ideal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: