LANGKAH-LANGKAH TEKNIS DALAM PROSES PENERJAMAHAN

Menterjamah seharusnya dilakukan setelah melakukan kegiatan penentuan teks yang hendak diterjamahkan. Penentuan ini tentu saja disesuaikan dengan keinginan yang ada pada diri penterjamah setelah mempertimbangkan segala hal. Setelah selesai penentuan ini, proses selanjutnya adalah penyelaman naskah sumber. Proses ini memerlukan beberapa tahap yang sebaiknya dilakukan oleh orang yang hendak menterjamah teks Arab.

Pertama, pemahaman teks secara global. Hal ini dapat diupayakan dengan beberapa cara, antara lain; [1] pembacaan judul secara cermat dan teliti dengan mengeja setiap kalimat yang membentuk judul tersebut. Tidak sedikit dari isi sebuah karangan, terwakili oleh susunan kata dalam judul. Apalagi, umumnya judul buku-buku berbahasa Arab lebih bersifat direct dibandingkan kebanyakan judul buku-buku berbahasa Indonesia. [2] pembacaan secara baik daftar isi. Uraian-uraian dalam beb-bab yang terdapat di dalam daftar isi kadang-kadang mencerminkan garis besar maksud tulisan yang akan diterjamah. Setidaknya, pembacaan terhadap daftar isi akan sedikit membantu penerjamah dalam mencari arah utama pemikiran dari buku tersebut. Daftar isi acapkali berperan menjadi rujukan yang mempercepat pembaca mencari bab-bab yang dirasa penting dan yang diperlukan. [3] pembacaan dengan teliti terhadap epilog. Epilog adalah merupakan bagian tulisan langsung dari pengarang atau dari editor yang

mengurai isi ecara ringkas dan padat. Bagi pihak yang menghendaki penterjamahan buku, tahap ini merupakan poin inti yang tidak seharusnya ditinggalkan untuk menemukan gambaran global dari isi karangan secara keseluruhan.

Kedua, pemahaman tentang posisi buku. Sebuah karya tulis dengan muatannya mesti berada pada posisi tertentu di atas hasil karya tulis lain. Dengan kata lain, suatu gagasan-gagasan, pemikiran besar atau ide dasar tidak akan pernah lahir dari ruang hampa. Sebuah karya tulis pasti muncul akibat respon terhadap segala macam gejala atau fenomena-fenomena sekecil  apapun bentuknya. Bisa saja karya itu digagas sebagai hasil penemuan, penguatan, sanggahan atau malah justru penolakan terhadap pemikiran yang lain. Atau barangkali tulisan itu berada pada posisi sikap netral yang tidak memiliki kecendrungan penguatan atau penolakan terhadap pemikiran sebelumnya. Pemahaman tentang posisi buku tersebut menjadi penting, tatkala penerjamah menginginkan tema tertentu yang berkaitan dengan corak pemikiran tertentu pula. Misalnya, penerjamah bermaksud mengangkat tema yang berhubungan dengan masalah politik pro demokrasi, maka memahami posisi buku yang akan diterjamah dalam ranah tersebut mutlak diperlukan.

Ketiga, pembacaan teks secara sepintas terhadap bagian-bagian atau keseluruhan dari isi buku. Jika tahap pertama dan kedua sudah dilewati seserius mungkin agar hasilnya menjadi lampu petunjuk terhadap seluruh isi buku secara global bagi penerjamah, maka pada tahap ini penerjamah justru diharapkan melakukan pembacaan dengan kondisi santai dan rileks, karena tidak dibutuhkan pemikiran yang serius untuk menghasilkan pemahaman dari pembacaan tersebut. Asalkan sudah dapat ditelusuri bacaan dalam buku itu meskipun tidak seratus persen dimengerti, langkah ini adalah sesuatu yang maksimal bagi penerjamah untuk dapat merasakan suasana dan nuansa pemakaian bahasa dalam buku sedikit demi sedikit. Pembacaan dengan cara demikian ini dapat dilakukan misalnya, membaca sekilas pada bagian pertama ketika menunggu kendaraan umum, kemudian dilanjutkan pada bagian berikutnya di saat menunggu anggota keluarga keluar dari pasar, dan pada bagian selanjutnya tatkala menunggu  siapa saja dan di mana saja.

Melalui pembacaan demikian ini, penerjamah sering sekali menemukan kosa kata yang terasa “sentral” dalam berbagai bab, beberapa halaman atau bahkan keseluruhan buku. Kadang kala akan dijumpai kalimat-kalimat yang terasa “janggal” di salah satu atau setiap halaman yang dilewatinya. Sepanjang penerjamah menemukan arti kata, makna kalimat dan susunan kosa kata yang belum diketahui persis atau penerjamah ragu-ragu terhadap semua itu, maka tidak ada salah ia mencatat ulang apa yang dialaminya untuk kemudian diupayakan dicarikan arti dari semuanya di dalam kamus-kamus yang cukup memadai. Teknis begini ini sering kali dianggap sepele oleh sebagian orang, tetapi bagi kegiatan penerjamahan merupakan cicilan beban yang dapat mengurangi pundi-pundi penumpukan pekerjaan di kemudian hari.

Langkah demikian itu, dalam proses penerjamahan terkadang juga bisa membantu pelaku terjamah agar tidak terjebak ke dalam jurang kebosanan yang ternyata acapkali menjadi momok bagi mayoritas para penerjamah. Sebab kenapa ? Karena kosa kata yang maknanya kurang dipahami atau lupa untuk dimengerti oleh penerjamah pada saat sebelumnya, kadang-kadang dengan langkah-langkah sebagaimana di atas menjadikan penerjamah tertolong untuk teringat kembali. Kadang pula iangatan itu kembali datang, tatkala kosa kata yang dijumpai dirangkaikan dengan konteks kalimat lain. Lebih-lebih lagi, apabila kosa kata yang digunakan oleh penulis buku sering di ulang dalam berbagai halaman. Karena sepandai apapun penulis sebuah buku akan memiliki keterbatasan perbendaharaan variasi kosa kata, bentuk kalimat dan bahkan susunan kata-kata (uslub al-kalimaat). Oeh sebab itulah, pengulangan pemakaian istilah di sana sini merupakan kebiasaan (watak) yang natural dan hampir semua orang mempunyainya.

Keempat, pada tahap terakhir ini adalah pembacaan teks buku secara serius dan mennyeluruh. Penerjamah seyogyanya melakukan kegiatan pembacaan mulai dari awal hingga akhir, terutama isi bab perbab. Di samping itu, ia dapat melakukan pencarian makna kata yang belum diketahui melalui bantuan kamus secara tuntas.

Pada tahap ini, sebaiknya penerjamah tidak tergesa-gesa menterjamahkan teks buku yang sudah dipelajarinya. Berdasar hasil penterjamahan yang baik, penerjamah lebih afdhal (lebih bagus) membaca kembali naskah buku yang akan diterjamah dalam hitungan yang tidak berjumlah. Contohnya, 3 – 10 kali atau satu – dua bab buku tersebut sambil mengkoreksi kekurangpahaman yang miliki penerjamah. Langkah ini bukan hal yang wajib dilakukan oleh penerjamah, tetapi acapkali penerjamah dapat diperkaya perbendaharaan kosa kata, sehingga lebih memudahkan dia untuk memulai penterjamahan naskah. Bahkan pembacaan ulang ini, memberikan peluang yang cukup luas bagi penerjamah untuk mempertegas kembali makna kosa kata yang “masih ragu-ragu” untuk di pahami dengan bantuan kamus. Setelah dibaca berulang kali untuk memperoleh pesan dan suasana teks sumber seutuhnya, barulah penerjamah bisa melakukan proses penterjamahan ke dalam bahasa sasaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: