AURAT DAN PORNOGRAFI DALAM POLEMIK

Pornografi Atau Seni ?

Pornografi Atau Seni ?

Menarik tulisan yang disuguhkan oleh Hizbullah Mahmud di internet. Ia kemukakan tentang dampak negatif yang ditimbulkan oleh keterbukaan aurat lawan jenis, terutama bagi kaum laki-laki. Argumen Hizbullah Mahmud semakin meyakinkan setelah ia mengutarakan dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti Amerika tentang akibat gaya berpakain bebas bahwa gaya hidup demikian menyebabkan impotensi pada kaum adam. Karena penampilan seksi kaum hawa yang disaksikan oleh pria berbanding lurus dengan tingkat impotensi para lelaki.

Masih menurut Hizbullah Mahmud bahwa di negara-negara yang perempuannya bebas mengenakan pakaian yang mengumbar aurat, jumlah penderita impotensinya lebih tinggi dari negara-negara yang melarang perempuan mengumbar betisnya. Hal ini terjadi karena di pria mudah sekali terangsang dengan rangsangan visual namun tidak semua pria dapat menyalurkan libidonya yang memuncak itu.

Sebetulnya sangat masuk akal uraian Hizbullah Mahmud tersebut. Secara psikologis, semakin sering seseorang melihat dan menyaksikan sesuatu yang bisa terangsang, maka akan makin membuat daya seksualitas kian melemah. Ketertarikan terhadap sesuatu muncul akibat gelora keinginan-keinginan yang tersumbat. Tatkala pintu keinginan-keinginan sudah menganga, maka gelora itu akan mengalami penurunan. Tentu saja sebagaimana diungkapkan oleh Hizbullah Mahmud bahwa berbagai fenomena lain seperti, banyaknya terjadi penyimpangan seksual serta tingginya tingkat prostitusi menjadi salah satu akibat yang dimunculkan oleh gaya hidup berpakaian yang bebas.

Hizbullah Mahmud kemudian menguraikan tentang aurat dari sisi pandangan Islam. Penjelasan itu cukup bagus sekali karena detail dan gamblang. Ia mulai dari definisi dalam dimensi bahasa, lalu di urai pula hukum, landasan yang mendasari lahirnya hukum itu, baik firman Allah swt., dalam al-Quran maupun sabda Nabi Muhammad saw., dalam al-Hadits, dan pendapat para fuqaha tentang aurat.

Aurat secara bahasa bermakna al-naqsu yang berarti kurang atau aib adapun secara istilah sesuatu yang tidak diboleh dilihat atau dipertontonkan. Menutup aurat wajib hukumnya dan ini telah menjadi kesepakatan para ulama baik klasik maupun kontemporer kecuali untuk keperluan darurat seperti buang air besar atau mandi dsb. Hal ini berdasarkan hadist Nabi ; “Aisyah meriwayatkan, bahwa saudaranya yaitu Asma’ binti Abubakar pernah masuk di rumah Nabi dengan berpakaian jarang sehingga tampak kulitnya. Kemudian beliau berpaling dan mengatakan: “Hai Asma’! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah datang waktu haidh, tidak patut diperlihatkan tubuhnya, melainkan ini dan ini — sambil ia menunjuk muka dan dua tapak tangannya”. Batasan aurat Menurut mazhab Hanafi, aurat laki-laki mulai dari bawah pusar sampai bawah lutut, hal ini berdasarkan ma’tsur (perkataan sahabat); “Aurat laki-laki apa yang ada diantara pusar dan lututnya atau apa yang ada dibawah pusar sampai lutut. Sedangkan aurat perempuan seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan”. Firman Allah: “Janganlah orang-orang perempuan menampakkan perhiasannya, melainkan apa yang biasa tampak dari padanya” (QS : An Nur :31). Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar maksud perhiasan yang biasa nampak dalam ayat ini adalah wajah dan telapak tangan.

Lebih menarik lagi dari tulisan Saudara Hizbullah Mahmud itu  ialah ia kemudian mencoba mengkritisi fenomena yang beberapa waktu lalu sempat menghangat, yaitu persoalan pro-kontra RUU Pornografi dan Pornoaksi. Sebagaimana pernah kita saksikan bahwa ada dua kelompok yang muncul akibat RUU tersebut. Kelompok pertama merupakan golongan yang mengimpikan ajaran Islam tentang aurat betul-betul dilaksanakan di Republik ini sesuai syariat Nabi Muhammad saw.

Menurut mereka, sebagai mayoritas di tanah air ini, umat Islam memikul tanggungjawab besar terhadap pelaksanaan ajaran-ajaran agamanya dalam proses berbangsa dan bernegara. Dalam lingkup individu saja, pelaksanaan syariat Islam harus diupayakan semaksimal mungkin, apalagi kehidupan umat muslim dalam bentuk kolektif. Kelompok ini juga menegasikan bahwa segala macam cobaan dan ujian yang menimpa bangsa ini tidak menutup kemungkinan bermula dari “kemurkaan” Tuhan menyaksikan syariat Nabi-Nya yang tidak dihiraukan. Posisi mayoritas yang dimiliki kaum muslim di pandang sebagai anugerah dari Tuhan sekaligus amanah-Nya. Kenikmatan dan amanah inilah yang harus dinomorsatukan ketimbang urusan lainnya dalam hal mensyukuri dan melaksanakan apa yang telah ditugaskan oleh-Nya.

Kelompok kedua merupakan komunitas yang menghendaki kebebasan berkarya, berkreasi dan berekspresi. Bagi kelompok ini, kebebasan harus lebih didewakan guna memberikan ruang yang lebih luas bagi potensi manusia untuk dikembangkan. Jangan malah ada pengekangan yang menelikung gerak ekspresi yang perlu di gali dari rahasia-rahasia yang sebetulnya telah diciptakan oleh Tuhan. Disinilah hakikat kebersyukuran manusia kepada anugerah Tuhan yang sudah dilimpahkan. Keindahan dan nilai seni yang terdapat pada semua alam ini, termasuk di dalam tubuh, sebagai bagian dari ciptaan-Nya perlu diekspresikan sedemikian rupa dalam bingkai seni, sehingga meniscayakan ketakjuban luar biasa kepada Sang Pencipta.

Lebih-lebih, masih menurut golongan ini, kategori pornografi belum jelas batasan-batasannya dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara, sehingga sulit untuk ditarik definisi secara detail dan mengikat. Ada perlaku-perilaku yang masih dipandang tumbang-tindih antara nilai-nilai normatif dan muatan-muatan tradisi yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Sebagian dari sekian aneka ragam budaya yang dimiliki bangsa ini terkadang melintasi dan bahkan terkadang bertabrakan dengan norma-norma agama, seperti adat istiadat kaum dayak di berbagai belahan daerah Kalimantan atau upacara-upacara adat di sebagian daerah Jawa. Tetapi sungguhpun demikian, tetap saja aneka ragam budaya dinilai absah dan perlu untuk dilesatarikan sebagai khazanah kekayaan budaya Indonesia. Argumentasi yang diangkat kelompok kedua ini ialah apakah budaya demikian itu dapat di golongkan sebagai tindakan pornografi?

Hal terpenting bagi kelompok ini ialah penghargaan sedalam-dalam kepada siapapun, meskipun diekspresikan dalam bentuk yang paling minimal. Lihatlah misalnya sikap yang dicontohkan oleh Budayawan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berpendapat lain soal goyang “ngebor” pedangdut Inul Daratista. Ia menyatakan agar setiap orang menghoramai cara seniman berekspresi. “Soal cara berekspresi, itu hak setiap individu, demikian juga hak untuk tidak suka. Menjadi masalah bila kita mengajak pihak lain untuk mengikuti sikap ketidaksukaan kita kepada cara berekspresi orang lain. Biarkan masyarakat menilai sendiri dengan netral. Kalau menyimpang dari norma-norma yang disepakati, akan dengan sendirinya ditinggalkan masyarakat,” kata Gus Dur dalam sebuah kesempatan.

Perdebatan kedua golongan tersebut hingga kini masih terus berlanjut seiring roda masa yang bergulir tanpa berkesudahan. Langkah kompromi kedua belah pihak agaknya sulit untuk diwujudkan, karena masing-masing bersikukuh dengan argumentasi yang diyakini. Masing-masing golongan merasa dirinya benar dengan pendapat yang dikumandangkan berdasar klaim bahwa pendapat mereka dilandaskan pada  dasar-dasar yang dinilai kuat menurut anggapan masing-masing mereka.

Di negeri yang selalu mengedepankan hukum dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi ini, tentu bukan sikap yang bijak apabila kita memaksakan salah satu golongan untuk tunduk kepada pendapat kelompok yang lain. Tetapi membiarkan silang pendapat ini menjadi wacana publik yang terus bergulir merupakan salah satu sikap yang berpangkal kepada kesadaran untuk melakukan proses pendewasaan masyarakat. Dengan demikian diharapkan masyarakat mampu menilai mana yang baik dan mana yang buruk sesuai dengan dasar-dasar berfikir yang berkembang di tengah-tengah masyarakat itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: