Gus Dur, Gus Yang Jadzab

Gus Dur, ada tanda kewalian

Gus Dur, ada tanda kewalian

Bukan Gus Dur kalau tidak tampil kontroversial. Bukan Gus Dur jika tidak membingungkan orang lain. Kehadirannya selalu menjadikan lawan terperangah. Teman, karib dan bahkan umat menjadi terharu. Itulah sosok Gus Dur.


KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur dilahirkan di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada tahun 1940. Gus Dur adalah putra salah seorang tokoh organisasi besar Nahdlatul Ulama (NU), yang bernama KH. Wahid Hasyim. Sedangkan Ibu putra pertama dari enam bersaudara itu bernama Hj. Sholehah yang tidak lain merupakan putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Dari perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, Gus yang berkacamata minus itu dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari .

Sejak masa kanak-kanak, kiai yang kemudian lebih dikenal sebagai tokoh dengan ucapan dan tindakan yang dinilai kontroversial oleh semua kalangan itu menampakkan kegemaran dan hobi yang tidak lumrah bagi anak-anak seumurnya. Kegemaran membaca misalnya, telah menjadi sifat yang sangat menonjol bagi seorang Gus Dur sejak masa kecil. Terbukti, ia selalu memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya untuk melahap ilmu pengetahuan dari buku-buku milik orang tuanya itu. Tidak itu saja, ia juga rajin mengunjungi perpustakaan di Jakarta tatkala ia ikut diboyong ayahandanya ke ibu kota karena tuntutan tugas dinas sebagai Menteri Agama. Tidak seperti anak-anak seusianya yang masih belia, Gus Dur telah terbiasa menelaah berbagai bacaan dari majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Bahkan buku-buku yang dibacanya tidak terbatas pada refrensi agama saja, tetapi ia telah akrab dengan karangan-karangan orang tidak beragama.

Hobi bermain bola, catur dan musik turut memberikan warna tersendiri terhadap kepribadian yang untuk kebanyakan kaum santri hobi demikian itu “kurang biasa” dimiliki oleh putra kiai. Kegilaan Gus Dur terhadap olah raga di rumput hijau itu dibawa hingga ia berkeluarga. Sebagai orang yang tergolong ke dalam komunitas “gibol” ini, Gus Dur dengan lihai mampu menilai dan mengevaluasi jalannya pertandingan tatkala ia diminta oleh pihak televisi untuk menjadi komentator sepak bola. Kegemaran lainnya, yang ikut melengkapi cap kontroversialnya ialah kesukaannya menonton bioskop. Hobinya ini diapresiasi oleh insan dunia film dengan mengangkat lelaki tambun ini sebagai ketua juri Festival Film Indonesia pada tahun 1986-1987. Sepak terjang Gus Dur ini akhir mendapatkan kritik pedas dari KH As’ad Syamsul Arifin, seorang ulama kharismatik dari Situbondo, dengan menjuluki cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari itu dengan sebutan “Kiai Ketoprak.”

Sebagaimana lazimnya anak kiai, Gus Dur banyak menghabiskan sebagian besar masa remajanya di pesantren. Selain di Jombang, ia juga belajar di pesantren yang ada di Yogyakarta dan Tegalrejo. Ilmu dasar-dasar agama ia dapatkan di desa kelahirannya, sedangkan pengembangan wawasan kerohanian ia peroleh di Yogyakarta dan Tegalrejo. Masa berikutnya, Gus Dur lewati dengan membantu pengajaran di pesantren Tambak Beras Jombang, sampai kemudian melanjutkan studi di Mesir. Kelakuan nyeleneh Gus Dur di negeri Fir’aun ini ternyata sudah menjadi warna jalan hidupnya. Pernah suatu kali ia mengajak sahabatnya Gus Mustofa Bisri, kini tokoh NU dan penyair Jawa Tengah, nonton bioskop padahal perkuliahan masuk aktif.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang untuk mengajar di pesantren Tebuireng Jombang dan Universitas di tempat yang sama. Keterlibatan Gus Dur di pesantren yang didirikan oleh kakeknya itu menajadi tonggak awal ketokohannya menasional. Dari kota santri inilah ia menekuni bakatnya sebagai penulis dan kolumnis. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber dalam forum-forum ilmiah baik yang bersifat keagamaan, kepesantrenan, ataupun kebangsaan. Sejalan dengan gagasan pemikiran Gus Dur yang mulai mendapat perhatian banyak pihak jam terbangnya tidak saja skala lokal, tetapi mulai merambah pada forum skala nasional bahkan internasional. Lewat ide-ide yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya, lagi-lagi Gus Dur membuat khalayak tercengang. Salah satu tulisan yang dianggap “gila” bagi umat Islam, terutama masyarakat pesantren, ialah gagasan tentang ucapan Assalamualaikum absah diganti dengan kata selamat pagi, selamat sore dan selamat malam dalam konteks keindonesiaan.

Bersamaan dengan nama dan ketokohannya yang kian dikenal oleh banyak lapisan, pada tahun 1984 Gus Dur dipilih untuk menduduki kursi Ketua Umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo, muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994).

Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Pemikiran kontroversial Gus Dur tidak sedikit pun mengalami perubahan meskipun ia telah menjadi orang nomor satu di Republik ini.

Sebagaimana dalam dunia pemerintahan, meski selalu didzalimi oleh lawan-lawan politiknya yang kemudian mengharuskannya melepaskan kursi kepresidenan, gaya dan perilaku juga tetap membuat orang banyak terbelalak ketika ia berada dilingkaran politik. Sebagai salah satu orang yang ikut mendeklarasikan lahir partai politik PKB yang ia sebut sebagai partai terbuka, Gus Dur kembali mengundang rasa kekhawatiran, keterkejutan dan keheranan tatkala ia pula yang dianggap sebagai pihak yang mengacak-acak partai berlambang bola dunia itu oleh sebagian orang tidak mengerti langkah-langkah politiknya.

Al-hasil, dimanapun Gus Dur berada, kapan dan dengan siapapun, ia tampil apa adanya. Gus Dur memang seorang pribadi yang tak pernah dikelilingi oleh rasa gelisah dan khawatir. Seakan Rasulallah Muhammad saw., selalu membisikannya “ta tahzan inna Allah ma’ana”. Sosok demikian ini kalau bukan “majdzub ila Allah” lalu apa?

(Disarikan dari berbagai sumber)

1 Comment »

  1. 1

    Memang diakui sosok gus dur selain kontroversial juga kocak . kehadirannya mampu menyihir lawan politiknya bahkan khalayahk umum bingung. Bingung mengikuti arah pemikirannya.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: