MENGENAI IBADAH HAJI

Makkah al-Mukarramah

Makkah al-Mukarramah

Semua ulama sepakat bahwa rukun Islam kelima ialah haji. Ibadah haji baru disyari’atkan pada tahun keenam Hijriyah sebagaimana pendapat kebanyakan ulama. Kewajiban haji yang ditunaikan oleh orang muslim hanya satu kali dalam sepanjang hidupnya, sementara seterusnya dihukumi sunnah.

Haji dianggap sebagai salah satu ibadah yang cukup memiliki nilai sangat penting dalam Islam diantara rukun Islam yang lain. Karena pelaksanaan haji harus dilakukan dengan kesungguhan dan niatan yang betul-betul dalam, mengingat ibadah haji harus dilakukan dalam bentuk dan arena yang cukup berat.

Nilai penting yang terdapat dalam ibadah haji itu dapat ditemukan dari isyarat bahwa satu-satunya rukun Islam yang dijadikan nama surat dalam al-Quran adalah haji, meskipun keterangan dan penjelsan mengenai tentang haji tidak saja terdapat dalam surah al-Haj saja.

واتموا الحج والعمرة لله فإن احصرتم فما استيسر من الهدي ولا تحلقوا رؤوسكم حتى يبلغ الهدي المحلة فمن كان منكم مريضا او به اذى من رأسه ففدية من صيام او صدقة او نسك فإذا امنتم فمن تمتع بالعمرة الى الحج فما استيسر من الهدي فمن لم يجد فصيام  ثلاثة ايام في الحج وسبعة اذا رجعتم تلك عشرة كاملة ذلك لمن يكن اهله حاضري المسجد الحرام واتقوا الله واعلموا ان الله شديد العقاب

الحج  اشهر معلومات فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال في الحج وما تفعلوا من خير يعلمه الله وتزودوا فإن خير الزاد التقوى واتقون يا أولى الألباب. (البقرة : 196-  197 )

Banyak versi riwayat yang berbeda-beda dan yang hampir senada mengenai sebab turun surat diatas. Riwayat tersebut ialah:

1.      Diriwayatkan oleh Abu Muhammad ibn Hatim dari Shafwan ibn Umayah, bahwa seorang laki-laki berjubah yang semerbak dengan wangi-wangian za’faran menghadap kepada Nabi Muhammad saw., dan kemudian bertanya: “Ya Rasul Allah ! apakah yang harus saya lakukan dalam menunaikan umrah ?” Lalu turunlah firman Allah : “wa atim al-hajja wa al-umrata lillah.” Kemudian Nabi bertanya “mana orang yang bertanya tadi ?” Orang tadi menjawab “saya ya Rasul.” Selanjutnya Rasul bersabda “tanggalkanlah bajumu, kemudian bersihkan hidung dan mandilah sesuka kamu, dan lalu kerjakanlah apa yang biasa engkau kerjakan pada waktu mengerjakan haji.”

2.      Dalam riwayat lain, yang terdapat dalam shahih Bukhari-Muslim dari Abi Ya’la ibn Umayyah, tentang kisah seseorang yang menanyakan (ihwal umrah) kepada Nabi Muhmmad saw., yang ketika itu berada di Ja’ranah. Sebagaimana hadis sebelumnya, lalu Nabi menjawab “tentang pakaian jubah yang kau kenakan, silahkan kau lepaskan, adapun terhadap wewangianyang ada, silahkan engkau cuci dan kemudian kamu lakukan dan umrah itu kegiatan-kegiatan (ibadah) yang kau perbuat pada saat-saat kamu melakukan haji.

3.      Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Ka’bah ibn Ujrah, ditanya tentang firman Allah “fafidyatun min shiyamin aw shadaqin aw nusuk” [QS. 2:196], lalu ia bercerita sebagai berikut “ketika sedang melakukan umrah, saya merasa kepayahan, karena dalam rambut dan muka saya bertebaran kutu-kutu yang banyak. Nabi tampaknya melihat kesulitan yang aku alami itu, dan lalu kemudian turunlah ayat “fafidyatun min shiyamin aw shadaqin aw nusuk” khusus tentang aku dan berlaku bagi semua (yang seperti saya). Nabi bertanya “apakah memiliki biri-biri untuk fidyah ?” Aku menjawab bahwa tidak mempunyainya. Nabi bersabda “berpuasalah kamu tiga hari, atau berilah makan enam orang miskin, setiap orang setengah sha’ (satu setengah liter) makanan dan kemudian cukurlah kamu.”

4.      Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa, ketika Rasul Allah saw. beserta sejumlah sahabatnya berada di Hudaibiyah dalam keadaan ihram, kaum musyrikin menghalang-halangi mereka supaya tidak meneruskan umrah. Salah seorang sahabat Nabi, dalam hal ini Ka’ab ibn Ujrah, kepalanya penuh kutu sehinggabertebaran ke mukanya sendiri. Saat itu Rasul yang ada dihadapannya melihat Ka’ab mengalami kesulitan lantaran penyakit itu. Tidak lama turunlah ayat “faman kana minkum maridhan aw bihi adzan min ra’sihi fafidyatun min shiyamin aw shadaqatin aw nusuk.” Lalu Rasul bersabda “apakah kutu-kutu itu mengganggu, seraya beliau menyuruh Ka’ab agar bercukur dan membayar fidyah.”

5.      Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari Atha’ yang bersumber dari Ibn Abbas, bahwa “Ketika Nabi dan para sahabat berhenti di Hudaibiyah (dalam suatu perjalanan umrah), tiba-tiba datanglah Ka’ab ibn Ujrah yang di kepala dan mukanyabertebaran kutu karena sangat banyak.” Lalu ia berkata “Ya Rasul ! Kutu-kutu ini sangat menyakitiku,” kemudian tuurunlah ayat :” faman kana minkum maridhan aw bihi adzan min ra’sihi fafidyatun min shiyamin aw shadaqatin aw nusuk.”

Adapun sebab turun ayat : “Wa tazauwadu fa inna khair al-zad al-taqwa,” diriwayatkan al-Bukhari dan lain-lain dari ibn Abbas bahwa penduduk Yaman masa silam sering nekad menunaikan haji tanpa perbekalan cukup dengan dalih bertawakal. Lalu turunlah ayat tersebut. Sementara menurut Atha’ ibn Abi Rabah, ” ada seorang yang pergi haji dengan membawa bekal, kemudian ia bagi-bagikan kepada orang lain, lalu turunlah ayat itu.”

Penjelasan

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan mufassirin mengenai apa yang dimaksudkan dengan :

Ayat pertama :

واتموا الحج والعمرة لله

Diantaranya menyatakan :

1.      Tunaikan haji dan umrah dengan sesempurna mungkin, sesuai syarat dan rukun tanpa ada penambahan dan pengurangan.

2.      Sempurnakanlah haji dan umrah itu dengan pelaksanaan secara terpisah. Jadi, pada satu kali melakukan haji, sedangkan pada kali yang lain melaksanakan umrah.

3.      Nafkah (biaya) yang digunakan untuk haji harus dari rizki yang halal.

4.      Dalam melaksanakan haji dan umrah harus dengan niat yang ikhlas tanpa tujuan lain.

Perbedaan pendapat tersebut sebetulnya saling melengkapi. Bergam tafsir terletak pada kata “itmam”. Karena ibadah haji merupakan sebuah ritual keagamaan yang cukup berat, maka tentu yang tuntut adalah kesempurnaan.

Berbeda dengan haji yang hukum wajibnya telah menjadi konsensus ulama (muttafaq alaih), maka terhadap hukum umrah yang juga dikenal dengan sebutan haji kecil (al-haj al-asghar) terdapat perbedaan pendapat diantara ulama, yaitu :

1.      Wajib

Menurut Ali ibn Abi Thalib, Ibn Umar, Ibn Abbas, Atha’, Thawus, Mujahid, al-Hasan, Ibn Syirin, al-Sya’bi, al-Syafi’i, Ahmad ibn Hambal, dan lain-lain dalam jumlah yang cukup besar.

2.      Sunnah

Paendapat ini menurut Ibn Mas’ud, Jabir ibn Abdillah, al-Nakha’i, Malik dan lain-lain.

Ayat kedua :

فإن احصرتم فما استيسر من الهدي

Para ulama fiqh berbeda pendapat mengenai batasan al-muhshar (orang yang tertahan/terhalang), yaitu :

1.      Ulama Hanafiyah

al-muhshar adalah penduduk atau orang yang tinggal atau berada di Makah yang terhalang setelah melakukan ihram, baik terhalang kerana sakit atau diblokade musuh atau sebab lainnya.

Hanafiayah di samping memperhatikan keumuman lahiriah ayat, juga berpegang pada pengertian yang diberikan kebanyakan ahli bahasa bahwa al-hashr bisa digunakan untuk arti tertahan dengan penyakit atau musuh.

2.      Ulama Syafi’iyah

al-muhshar tidak terbatas pada penduduk Makah, tetapi juga termasuk penduduk Madinah. Hanya al-hashr pada ayat itu terbatas pada blokade musuh saja.

Ada tiga alasan yang dipakai ulama Syafi’iyah : [1] Bersandar kepada Ibn Abbas dan Ibn Umar yang menggunakan kata al-hashr untuk mengungkapkan halangan (al-man’u), [2] Seseorang tidak dikatakan terhalang dengan melibatkan pihak lain yang mampu melakukan tindakan itu. Dan itu sangat mungkin karena permusuhan, bukan karena penyakit, [3] Qiyas lughawi pada ayat   فإذا امنتم فمن تمتع بالعمرة الى الحج…. Lafadz amintum” harus diartikan dalam konteks merasa aman dari gangguan musuh, bukan dari serangan penyakit.

Ayat ketiga :

ولا تحلقوا رؤوسكم حتى يبلغ الهدي

Pada ayat itu terdapat perbedaan pendapat tentang tempat penyembelihan al-hadyu, yaitu :

1.      Mazhab Hanafiyah dan al-Tsauri serta Abdullah ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Atha’, Thawus, al-Hasan dan Ibn Sirin

Tempat penyembelihan al-hadyu adalah semua tanah haram

2.      Malik dan Syafi’i

Penyembelihan dilakukan di tempat tertahannya orang tersebut

Ayat keempat

فمن كان منكم مريضا او به اذى من رأسه

Terhadap penafsiran kata “sakit” pada ayat ini terdapat perbedaan, yaitu :

1.      Abu Hanifah

Semua keadaan yang layak untuk dikategorikan sakit, mengingat sakit berat yang mengakibatkan orang terhalang untuk melakukan haji digolongkan al-hashr.

2.      Syafi’iyah

Justru sakit tidak masuk ke dalam kelompok al-hashr, karena status hukumnya jelas.

Ayat kelima

تلك عشرة كاملة

Ada dua penjelasan tentang ayat ini, yakni :

1.      al-Maraghi

Kata ”kamilah” mengisyaratkan bahwa puasa yang dilakukan harus sempurna dalam artian tidak boleh dikurangi atau dilaksanakan secara serampangan.

2.      al-Syafi’i

Ada dua kemungkinan :[1] Tambahan penjelsan bahwa puasa itu sepuluh hari, [2] Allah mengajari bahwa tiga tambah tujuh sama dengan sepuluh.

Ayat keenam

ذلك لمن يكن اهله حاضري المسجد الحرام

Ada dua pendapat tentang isyarat “zalika“, yaitu :

1.      Kalangan ulama

Isyarat itu tertuju kepada ”tamattu” yang hanya boleh dilakukan oleh orang di luar Makah, sedangkan penduduk Makah dilarang melakukan ”tamattu”.

2.      Kelompok ulama yang lain

Isyarat itu kembalikan ke puasa, karenanya penduduk Makah sah-sah saja melakukan haji ”tamattu”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: