<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>HM Madarik Yahya</title>
	<atom:link href="http://madarikyahya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madarikyahya.wordpress.com</link>
	<description>Membingkai Wacana dalam Kajian</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Oct 2009 11:38:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='madarikyahya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/34f5b86fd311920fd389977a3eeb1602?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>HM Madarik Yahya</title>
		<link>http://madarikyahya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://madarikyahya.wordpress.com/osd.xml" title="HM Madarik Yahya" />
	<atom:link rel='hub' href='http://madarikyahya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SHALAT BERJAMAAH</title>
		<link>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/25/shalat-berjamaah/</link>
		<comments>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/25/shalat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 11:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madarikyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/25/shalat-berjamaah/</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Shalat Berjamaah Fardu kifayah bagi laki-laki yang sudah menetap rumah. Fardu a’in untuk shalat Jumat. Syarat-syarat Menjadi Ma’mum [1] Berniat menjadi ma’mum [2] Tidak mendahului imam dalam masalah tempat [3] Mengetahui perubahan/perpindahan rukunnya imam, meski dengan perantara [4] Berjarak dekat dengan imam selain di dalam masjid [5] Tidak mendahului atau terlambat dari imam sampai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=127&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration:underline;">Hukum Shalat Berjamaah</span></p>
<p>Fardu kifayah bagi laki-laki yang sudah menetap rumah.</p>
<p>Fardu a’in untuk shalat Jumat.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Syarat-syarat Menjadi Ma’mum</span></p>
<p>[1] Berniat menjadi ma’mum</p>
<p>[2] Tidak mendahului imam dalam masalah tempat</p>
<p>[3] Mengetahui perubahan/perpindahan rukunnya imam, meski dengan perantara</p>
<p>[4] Berjarak dekat dengan imam selain di dalam masjid</p>
<p>[5] Tidak mendahului atau terlambat dari imam sampai 2 (dua) rukun fi’li tanpa udzur</p>
<p>[6] Sesuai dalam sunnah-sunnah yang umpama berbeda dengan imam menjadi tidak pantas, seperti tasyahud awal atau sujud sahwi</p>
<p>[7] Tidak ada penghalang di antara keduanya</p>
<p>[8] Tidak mendahului atau bersamaan dengan imam dalam soal takbir al-ihram</p>
<p>[9] Tidak meyakini kewajiban pengulangan shalat bagi imam.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Orang yang Boleh Dijadikan Imam</span></p>
<p>Boleh berma’mum kepada semua orang yang sah shalatnya, kecuali laki-laki menjadi ma’mum perempuan, orang pandai membaca (fasih) berma,mum kepada orang yang tidak pandai membaca, dan orang yang melakukan shalat hadir (<em>ada’an</em>) berma’mum kepada orang yang melaksanakan shalat yang dihutang (<em>qada’an</em>).</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Orang yang Makruh Dijadikan Imam</span></p>
<p>Makruh shalat dibelakang (menjadi ma’mum)</p>
<p>[1] Orang yang tidak disukai oleh mayoritas masyarakat</p>
<p>[2] Anak kecil (<em>shoby</em>)</p>
<p>[3] Orang salah bacaannya dengan kesalahan yang tidak merubah makna</p>
<p>[4] Orang yang belum di sunat (<em>khitan</em>), meskipun sudah dewasa (<em>baligh</em>)</p>
<p>[5] Orang yang tidak terjaga dari najis.</p>
<p align="center">PRIHAL MENJADI MA’MUM</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ma’mum  Ada Dua Macam :</span></p>
<p>[1] Ma’mum masbuq (yang ketinggalan)</p>
<p>[2] Ma’mum Muwafiq  (yang bersama)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ma’mum Masbuq</span></p>
<p>Ma’mum Masbuq adalah orang yang tidak menemukan waktu untuk membaca surah al-Fatihah bersama imam.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ma’mum Muwafiq</span></p>
<p>Ma’mum Muwafiq adalah orang yang menemukan waktu untuk membaca surah al-Fatihah bersama imam.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Hukum Masbuq</span></p>
<p>[1] Apabila dia menemukan imam dalam keadaan ruku’, maka ma’mum itu melaksanakan ruku’ bersama imam. Ma’mum masbuq tersebut tidak perlu membaca surah al-Fatihah dan bagi dia sudah dianggap melaksanakan rakaat jika dia dapat tenang dalam ruku’ (<em>tuma’ninah</em>) bersama imam</p>
<p>[2]  Apabila dia menemukan imam dalam berdiri tetapi imam keburu melakukan ruku’ sebelum ma’mum itu menyelesaikan bacaan surah al-Fatihah, ma’mum itu melaksanakan ruku’ bersama imam jika ma’mum tersebut tidak membaca doa <em>iftitah</em> atau membaca <em>ta’auwudz</em>. Status sisa surah al-Fatihah yang belum selesai tadi sudah bukan tanggungan ma’mum masbuq itu</p>
<p>[3]   Apabila dia menemukan imam dalam berdiri tetapi ma’mum melaksanakan doa iftitah atau <em>ta’auwudz</em>, kemudian imam ruku’ sebelum ma’mum menyelesaikan bacaan surah al-Fatihah lalu tertinggal dalam beberapa saat yang digunakan untuk membaca doa <em>iftitah</em> atau <em>ta’auwudz</em>. Kalau ma’mum menemukan imam pada saat ruku’, maka ma’mum dihitung menemukan satu rakaat. Kalau ma’mum menemukan imam sudah berdiri dari ruku’ (<em>i’tidal</em>) sementara ma’mum belum melakukan ruku’, maka ma’mum dihitung kehilangan satu rakaat. Kalau ma’mum menemukan imam sudah sujud sementara ma’mum belum selesai bacaan surah al-Fatihah, maka batal shalatnya jika tidak berniat berpisah (<em>al-mufaraqah</em>).</p>
<p>Hukum Muwafiq</p>
<p>[1]      Wajib bagi ma’mum menyempurnakan bacaan surah al-Fatihah, meski ma’mum ketinggalan imam sebab bacaan surah tersebut hingga imam sudah melaksanakan ruku’</p>
<p>[2]   Apabila ma’mum masih dalam keadaan membaca surah al-Fatihah, maka ketinggalan diperbolehkan asalkan tidak lebih dari 3 (tiga) dengan syarat adanya alasan (udzur) dari beberapa alasan-alasan, yaitu:</p>
<p><em>Pertama</em>, apabila ma’mum  muwafiq lambat bacaannya (bukan was-was), sementara imam memiliki kecepatan bacaan sedang.</p>
<p><em>Kedua</em>, apabila ma’mum muwafiq lupa membaca surah al-Fatihah, kemudian ingat sebelum melakukan ruku’ bersama imam.</p>
<p>Jika  ingatnya setelah ruku’, maka tidak boleh sekali-kali membaca surah al-Fatihah bahkan terus saja mengikuti imam dan menambah satu rakaat setelah salamnya imam.</p>
<p><em>Ketiga</em>, apabila ma’mum muwafiq membaca doa <em>iftitah</em> atau <em>ta’auwudz</em> dan mengira bahwa ada kesempatan membaca surah al-Fatihah, tetapi ternyata tidak ada waktu membacanya.</p>
<p>Jika nyata kehilangan kesempatan membaca surah al-Fatihah dan tidak menemukan imam dalam ruku’, maka ma’mum muwafiq dihitung kehilangan satu rakaat dan harus menambah satu rakaat lagi setelah salamnya imam.</p>
<p>(<em>al-Mabadi’ al-Fiqhiyah ala Madzhab al-Imam al-Syafii</em>, karangan Umar Abduljabbar. Cetakan akhir, tahun 1379 H. Juz III, hal. 33-37)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madarikyahya.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madarikyahya.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madarikyahya.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madarikyahya.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madarikyahya.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madarikyahya.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madarikyahya.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madarikyahya.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madarikyahya.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madarikyahya.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madarikyahya.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madarikyahya.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madarikyahya.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madarikyahya.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=127&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/25/shalat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35e321924eeebc57ae4e8632682fe3aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madarikyahya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TATAKRAMA BERDOA</title>
		<link>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/25/tatakrama-berdoa/</link>
		<comments>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/25/tatakrama-berdoa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 11:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madarikyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/25/tatakrama-berdoa/</guid>
		<description><![CDATA[Para ulama fiqh, hadits dan sekelompok ulama berpendapat bahwa berdoa hukumnya sunnah, karena dianjurkan oleh Allah swt., dalam al-Quran. Hanya saja yang menjadi perbedaan pendapat ialah tentang keutamaan antara berdoa atau rela tidak berdoa. Sebagian mengemukakan bahwa berdoa adalah ibadah, karena dengan memanjatkan permohonan seseorang telah memperlihatkan kebutuhan dalam hidupnya. Di samping itu, keabsahan berdoa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=126&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para ulama fiqh, hadits dan sekelompok ulama berpendapat bahwa berdoa hukumnya sunnah, karena dianjurkan oleh Allah swt., dalam al-Quran. Hanya saja yang menjadi perbedaan pendapat ialah tentang keutamaan antara berdoa atau rela tidak berdoa. Sebagian mengemukakan bahwa berdoa adalah ibadah, karena dengan memanjatkan permohonan seseorang telah memperlihatkan kebutuhan dalam hidupnya. Di samping itu, keabsahan berdoa diperkuat dengan berbagai dalil yang terdapat dalam kitab suci dan hadits. Tetapi sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa sikap diam dengan tidak berdoa disertai rasa ridla terhadap “Sabda” Tuhan merupakan tindakan penghambaan yang lebih sempurna dan lebih utama ketimbang menengadah meminta-minta kepada Sang Pengasih.</p>
<p>Tetapi terlepas dari apa yang terjadi dalam tarik ulur pendapat tentang keutamaan berdoa atau diam tanpa doa, sebagian ulama telah merumuskan tatakrama berdoa (<em>adab al-du’a</em>) dalam beberapa norma kesopanan bagi seseorang yang hendak memanjatkan doa:</p>
<p><em>Pertama</em>, agar ia memperhatikan waktu-waktu yang mulia seperti hari wukuf di Arafah, bulan Ramadan, hari Jumat, sepertiga malam atau pada jam sahur.</p>
<p><em>Kedua</em>, agar ia mencari kesempatan keadaan-keadaan yang dianggap utama seperti ketika sujud, di tengah-tengah kecamuk pertempuran, tatkala turun hujan, waktu <em>iqamah</em> shalat atau pada saat hati sedang merasa gembira.</p>
<p><em>Ketiga</em>, menghadap Qiblat dan mengangkat kedua telapak tangan hingga bagian dalamnya terlihat.</p>
<p>Jika menengadahkan tangan menjadi bagian dari tatakrama  dalam berdoa, padalah Allah swt, tidak memerlukan dimensi tempat, lalu apa makna mengangkat tangan itu ? Jawaban dari dua pertanyaan tersebut dapat diberikan dari dua sisi. [1] Bahwa ada tempat yang dibuat fokus sebagai perlambang untuk ibadah, seperti menghadap Ka’bah – <em>Bait Allah</em>, rumah-Nya – ketika  shalat, atau wajah yang diletakkan di atas tanah, padahal Tuhan Maha Suci dari bersifat memiliki rumah dan tempat sujud. Oleh karena itu, arah langit dijadikan sebatas simbolisasi berdoa agar konsentrasi yang diimpikan dalam doa betul-betul terwujud. [2] Bahwa langit digambarkan sebagai tempat turunnya rejeki, wahyu, rahmat dan berkah dari Tuhan sebagaimana menetes dari sana. Langit juga dilukiskan sebagai tempat penerimaan amal pekerjaan manusia, tempat bagi ruh para Nabi dan tempat adanya surga dan neraka. Oleh karenanya, doa diarahkan ke sisi langit seperti halnya segala macam yang ghaib diyakini berada di sana.</p>
<p>Dalam soal mengangkat tangan pada saat berdoa masih menyisakan tanya yang lain, yaitu bolehkan mengangkat tangan dalam keadaan tangan itu najis ? Jawabnya adalah makruh apabila tanpa penutup/penghalang dan hilang kemakruhan jika ada penutup/penghalang, sebagaimana haram memegang mushaf al-Quran apabila tanpa penutup/penghalang, tetapi menjadi hilang kerahaman jika ada penutup/penghalang. Dengan cara demikian, hukum haram bisa hilang pada masalah mushaf al-Quran, apalagi hukum makruh pada persoalan menengadahkan tangan ketika berdoa.</p>
<p>Permasalahan mengangkat tangan dalam berdoa di luar shalat berlaku untuk semua jenis doa, kecuali doa yang dipanjatkan tatkala khutbah Jumat. Hukumnya makruh bagi khatib untuk mengangkat tangan ketika berdoa.</p>
<p>Seyogyanya bagi orang yang berdoa mengusap wajahnya dengan tapak tangannya ketika doa sudah selesai. Dan jika memandang wajahnya ketika berdoa, maka boleh saja. Sementara larangan sebagaimana keterangan hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah merupakan larangan yang khusus doa pada saat shalat.</p>
<p><em>Keempat</em>, memperlahan (tidak mengeraskan) suara ketika berdoa, sebab Allah swt, bukan Tuhan yang tuli. Di samping itu, sikap tidak mengeraskan suara (<em>tadlarru’ wa khufyah</em>) dalam berdoa mengesankan keikhlasan.</p>
<p><em>Kelima</em>, tidak memaksakan lantunan doa dengan irama lagu (<em>al-saja’</em>) dan tidak berlebihan dalam materi doa. Sebab, terkadang ada orang berdoa dengan berlebihan tanpa memahami kemaslahatan yang patut didapati oleh dirinya sesuai kondisi yang meliputinya. Hal terbaik ialah memanjatkan doa-doa yang berasal dari Nabi dan ulama salaf dengan suara merendah tanpa kesan menunjukkan kefasihan ucapan.</p>
<p><em>Keenam</em>, merasa rendah diri, tenang dan merasa bergetar hatinya. Sebab, terkadang jika Allah swt, mencintai hamba-Nya, maka memberikan cobaan sehingga Tuhan mendengar rintihannya.</p>
<p><em>Ketujuh</em>, agar dia merasa mantap dengan permohonannya, meyakini terkabulnya doa itu (<em>ijabah du’aih</em>), dan memiliki pengharapan dalam doanya. Sebab, Iblis saja dikabulkan permintaan, apalagi pemohon yang mukmin.</p>
<p><em>Kedelapan</em>, agar ia mendesak dan mengulang sampai tiga kali dan tidak menganggap lamban keterkabulannya doa yang dipanjatkan (<em>al-istibtha’ bi al-ijabah</em>).</p>
<p>Kesembilan, hendaknya ia membuka doa dengan menyebut nama Allah (dzikir) dan shalawat kepada Nabi Muhammad saw, dan menutupnya dengan hal tersebut juga.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madarikyahya.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madarikyahya.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madarikyahya.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madarikyahya.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madarikyahya.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madarikyahya.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madarikyahya.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madarikyahya.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madarikyahya.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madarikyahya.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madarikyahya.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madarikyahya.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madarikyahya.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madarikyahya.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=126&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/25/tatakrama-berdoa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35e321924eeebc57ae4e8632682fe3aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madarikyahya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TATA CARA BERSUCI</title>
		<link>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/20/tata-cara-bersuci/</link>
		<comments>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/20/tata-cara-bersuci/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 08:56:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madarikyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madarikyahya.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Tata cara seorang pemeluk suatu agama dalam beribadah kepada Tuhannya mempunyai aturan yang berbeda. Orang Jahiliyah misalnya, mereka menghadap sesuatu yang dipertuhankan dalam keadaan telanjang bulat, sebab keyakinan mereka pakaian itu memberikan kesan tidak baik. Lantaran pakaian sudah dipergunakan berbuat dosa sehingga tidak layak dipakai untuk beribadat kepada Tuhan. Tetapi lain halnya dengan agama Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=124&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tata cara seorang pemeluk suatu agama dalam beribadah kepada Tuhannya mempunyai aturan yang berbeda. Orang Jahiliyah misalnya, mereka menghadap sesuatu yang dipertuhankan dalam keadaan telanjang bulat, sebab keyakinan mereka pakaian itu memberikan kesan tidak baik. Lantaran pakaian sudah dipergunakan berbuat dosa sehingga tidak layak dipakai untuk beribadat kepada Tuhan.</p>
<p>Tetapi lain halnya dengan agama Islam yang justru mensyariatkan kesucian luar-dalam (<em>dzahiran wa batinan</em>) untuk melakukan ibadah. Aspek luar (<em>dzahir</em>) meliputi badan, pakaian dan tempat yang harus suci dari najis. Sedangkan sisi dalam (<em>batin</em>) harus juga suci dari hadats basar atau kecil (<em>al-hadats al-ashghar wa al-akbar</em>). Hukum pelaksanaan penyucian ini wajib, karena menjadi pintu dari keabsahan ibadah yang hukum wajib, seperti shalat, sebagaimana disebutkan dalam kaidah fiqih:</p>
<p>ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب</p>
<p>“<em>Sesutu yang menyempurnakan perkara wajib, maka sesutu itu hukumnya wajib</em>”</p>
<p>Kalau hukum shalat wajib, maka wudlu hukumnya juga wajib karena menjadi sesuatu yang menyempurnakan pelaksanaan ibadah shalat. Sebagaimana untuk mensucikan diri dari hadats dengan wudlu, maka cara mensucikan diri dari najis yang keluar dari dua lubang depan dan belakang (<em>qubul wa dubur</em>) dengan <em>istinja’</em> (membersihkan diri).</p>
<p>Pada suatu hari Nabi Muhammad saw, memberikan pengajaran tentang tata cara <em>istinja’</em> yang benar, “jika kalian membuang hajat (membuang air besar/kecil), maka ber-<em> istinja’</em>-lah dengan tiga batu !” Begitulah tata cara membersihkan diri dari kotoran yang keluar dari dua jalan dalam tubuh kita pada periode pertama. Pada masa berikutnya Allah swt, memberikan isyarat tentang kebersihan dan kesucian dengan menurunkan wahyu-Nya:</p>
<p>فيه رجال يحبون ان يتطهروا والله يحب المتطهرين (التوبة: 108)</p>
<p>“<em>Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah swt, mnyukai orang-orang yang bersih</em>.” (QS. Taubah:109).</p>
<p>Dalam ayat ini Allah swt, memuji penduduk Quba’ dalam hal tata cara bersuci. Tatkala Rasulallah saw, menanyakan tentang prihal tersebut kepada mereka, orang-orang Quba’ itu menjawab bahwa tata cara bersuci yang dilaksanakan ialah dengan menggunakan batu terlebih dahulu kemudian dengan air. Sejarah ini lalu dijadikan sumber ketetapan hukum dalam hal tata cara bersuci yang lebih baik (<em>afdhal</em>) dalam Islam.</p>
<p>Dari peristiwa inilah, sesuatu yang digunakan untuk membersihkan diri (<em>istinja’</em>) adalah air dan batu. Apabila air tidak ada, maka diperbolehkan dengan batu atau yang semakna dengan batu. adapun syarat-syarat penggunaan <em>istinja’ </em>dengan batu sebagai berikut:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, harus terdiri dari tiga batu atau satu batu dengan tiga sudut, meski umpama kebersihan sudah diperoleh tanpa tiga batu atau satu batu dengan tiga sudut. Hal ini karena ada penegasan dari Nabi Muhammad saw, dengan sabdanya:</p>
<p>وليستنج بثلاثة اجمار فلو لم يحصل إلا بأكثر  من الثلاثة وجبت الزيادة عليها</p>
<p>“<em>Dan hendaklah kamu ber- istinja’ dengan tiga batu. Jika belum bisa bersih kecuali dengan lebih dari tiga batu, maka wajib menambah dari bilangan batu semula</em>.”</p>
<p>Dari keterangan hadits ini, disunnahkan melakukan <em>istinja’ </em> dengan hitungan ganjil (<em>itar</em>), walaupun kebersihan sudah dihasilkan dengan penggunaan genap.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, harus bisa membersihkan najis dari tempat keluar kotoran.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, najis yang akan disucikan tidak boleh sampai kering. Karena apabila sampai kering, maka batu tidak dapat menghilangkan najis dengan seketika. Jika najis itu kering seluruhnya atau sebagian, maka cara bersuci dengan menggunakan air.</p>
<p><strong><em>Keempat</em></strong>, najis tidak boleh berpindah dari tempat asalnya (tempat keluarnya kotoran).</p>
<p><strong><em>Kelima</em></strong>, tidak ada sesuatu yang lain, seperti najis lain atau sesuatu yang suci (misalnya air) selain keringat.</p>
<p><strong><em>Keenam</em></strong>, sesuatu yang keluar itu tidak melapaui/mengenai tampat sekitar keluarnya kotoran (<em>dubur</em>, saat buang air besar atau ujung <em>dzakar</em>/<em>qubul</em>, ketika buang air kecil).</p>
<p><strong><em>Ketujuh</em></strong>, najis tidak terkena air (yang bisa mensucikan) atau cairan, walaupun air/cairan itu suci, setelah dan atau sebelun ber-<em>istinja’</em>. Dari ketetapan ini, maka dengan batu yang basah tidak sah, karena batu tersebut menjadi najis.</p>
<p><strong><em>Kedelapan</em></strong>, batu yang digunakan harus suci, bukan yang terkena najis (<em>al-mutanajjis</em>).</p>
<p>Tata cara bersuci tersebut merupakan bagian dari dispensasi (<em>min al-rukhas</em>) dan ciri khas (<em>min al-khususiyat</em>) umat Nabi Muhammad saw. Dari sisi medis, setelah diadakan penelitian oleh para ahli kesehatan ternyata batu mengandung zat antibiotik.</p>
<p>Adapun <em>istinja’</em> dengan sesuatu yang semakna dengan batu memiliki syarat-syarat sebagai berikut:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, sesuatu itu suci.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, harus bisa menghilangkan najis secara efektif dari tempatnya keluarnya kotoran menurut pendapat yang sahih.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, bukan sesuatu yang dimuliakan secara syariat, seperti sesuatu yang di makan, menurut pendapat yang sahih.</p>
<p>Seiring dengan kemajuan teknologi dan pesatnya inovasi-inovasi yang dilakukan para ahli, fakta yang kian umum kita temukan ialah sarana bersuci yang dianggap lebih praktis yakni alat pembersih tissue yang banyak tersedia di toilet dan wc hotel-hotel, gedung-gedung mewah, kapal laut atau pesawat terbang dan lain-lain.</p>
<p>Berdasarkan kriteria yang telah disebutkan diatas dan berlandaskan keterangan:</p>
<p>يجوز الإستنجاء بأوراق البياض الخالى عن ذكر الله (بغية المسترشدين: 27)</p>
<p>“<em>Boleh ber-istinja’ dengan menggunakan kertas-kertas putih yang tidak bertuliskan lafadz Allah.</em>”</p>
<p>اما الورق الذى لا يصلح الكتابة فإنه يجوز الإستنجمار بدون كراهة (المذاهب الأربعة: 98.ج: 1)</p>
<p>”<em>Adapun kertas yang tidak layak untuk digunakan menulis, maka boleh dibuat ber- istinja’ tanpa kemakruhan</em>”.</p>
<p>maka penggunaan tissue untuk bersuci diperbolehkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madarikyahya.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madarikyahya.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madarikyahya.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madarikyahya.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madarikyahya.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madarikyahya.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madarikyahya.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madarikyahya.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madarikyahya.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madarikyahya.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madarikyahya.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madarikyahya.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madarikyahya.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madarikyahya.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=124&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/20/tata-cara-bersuci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35e321924eeebc57ae4e8632682fe3aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madarikyahya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HIKMAH WALIMAH AL-‘ARUSY</title>
		<link>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/18/hikmah-walimah-al-%e2%80%98arusy/</link>
		<comments>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/18/hikmah-walimah-al-%e2%80%98arusy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 12:34:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madarikyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madarikyahya.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Walimah al-arusy memang sebuah “pesta” yang istimewa karena diperintahkan oleh Rasulillah Muhammad saw, dalam berbagai riwayat hadits untuk dilaksanakan oleh setiap umat muslim yang menyelenggarakan akad nikah, meskipun pesta tersebut dilakukan sesuai dengan kemampuan. Perintah Nabi Muhammad saw, untuk mengadakan walimah al-arusy ini sudah tentu terkandung hikmah dan kemanfaatan dibelakangnnya. Hikmah tersebut antara lain: Pertama, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=122&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Walimah al-arusy memang sebuah “pesta” yang istimewa karena diperintahkan oleh Rasulillah Muhammad saw, dalam berbagai riwayat hadits untuk dilaksanakan oleh setiap umat muslim yang menyelenggarakan akad nikah, meskipun pesta tersebut dilakukan sesuai dengan kemampuan.</p>
<p>Perintah Nabi Muhammad saw, untuk mengadakan walimah al-arusy ini sudah tentu terkandung hikmah dan kemanfaatan dibelakangnnya. Hikmah tersebut antara lain:</p>
<p><em>Pertama</em>, persaksian (<em>al-isytisyhad</em>). Persaksian demikian ini diselenggarakan karena kedua mempelai telah sah dan berstatus resmi sebagai pasangan suami-istri. Dengan status yang baru ini, maka diketahui oleh khalayak umum bahwa sesuatu yang haram bagi kedua pasangan itu kini menjadi halam, bahkan termasuk bagian dari ibadah karena ketundukan kedua mempelai terhadap ketentuan yang diwajibkan oleh Allah swt, dan sunnah Rasulillah Muhammad saw.</p>
<p>Konsekwensi yang muncul berikut setelah “<em>aqd al-nikah</em>”  ialah lahirnya hak-hak dan kewajiban-kewajiban menyangkut kehidupan diantara mereka berdua sebagai suami-istri. Bahkan ada sikap-sikap hidup yang harus di rubah dan diadaptasikan menyangkut kehidupan antara suami atau istri dengan keluarga masing-masing keduanya. Hak-hak dan kewajiban-kewajiban dan sikap-sikap yang harus ditunaikan tersebut bersumber dari tuntunan Kitabullah (al-Quran) Sunnah Rasulillah saw (al-Hadits).</p>
<p>Dengan melalui persaksian yang terkandung di dalam walimah al-arusy itu diharapkan kedua mempelai jauh dari kemungkinan-kemungkinan malapetaka (fitnah) yang timbul dari interaksi antara laki-laki dan perempuan. Keterjagaan keduanya dapat dimungkinkan, karena beberapa hal: [1] Rasa kehati-hatian kedua mempelai dalam membatasi kebebasan pergaulan, karena perasaan mereka berdua sudah “dibelenggu” oleh tersiarnya ikatan di antara keduanya melalui walimah al-arusy. [2] Perubahan status yang ada pada masing-masing mempelai telah diketahui oleh banyak orang. Sehingga dengan begitu, terdapat batas pemisah yang mempersempit tingkah laku, pola dan sikap hidup keduanya. Kebebasan hidup yang pernah dienyam tatkala mereka masih hidup sendiri, kini mulai mengurang pada satu sisi dan bertambah pada sisi hidup yang lain.</p>
<p><em>Kedua</em>, mengambil kemanfaatan doa (<em>al-intifa’ bi al-du’a</em>). Restu dan doa dari semua yang menghadiri dan sekaligus menyaksikan walimah al-arusy, terutama dari orang tua kedua mempelai, para ulama dan tokoh masyarakat amat penting bagi awal perjalanan bahtera rumah tangga keduanya. Sebagaimana diyakini di dalam ajaran Islam bahwa doa merupakan salah satu ikhtiar manusia yang dibutuhkan dalam mengarungi kehidupan yang jalaninya. Oleh karenanya, di dalam momen jenjang kehidupan kedua mempelai, hantaran dengan restu dan doa merupakan salah satu upaya bangunan rumah tangga yang akan dibina oleh keduanya dalam mengarungi perjalanan kehidupan betul-betul kokoh dan kuat. Biduk rumah tangga yang disusun sejak awal diharapkan memiliki kekuatan dan kemampuan, meski badai kehidupan menerpa keduanya.</p>
<p>Walapun demikian, restu dan doa bukanlah satu-satu yang dapat menjadikan rumah tangga kuat dan kokoh, tetapi setidaknya ada tiga hal yang melandasi kekokohan rumah tangga :</p>
<p>1. Akad nikah merupakan ikatan perjanjian yang kokoh.</p>
<p>Di dalam al-Quran, “<em>aqd al-nikah</em>” digambarkan sebagai  ikatan perjanjian yang kokoh (<em>mitsaqan ghalidlan</em>) sebagaimana difirmankan oleh Allah swt, (QS. Al-Nisa:21). Pernikahan dilukiskan dengan ikatan yang kokoh, karena pernikahan melibatkan hampir seluruh potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia, mulai dari fikiran, emosi, perasaan, fisik, material dan roh. Seluruh potensi yang terdapat pada diri manusia itu berbaur menjadi satu sehingga membentuk ikatan yang tidak terpisahkan. Tatkala salah satu atau sebagian dari potensi-potensi tersebut sudah mulai mengalami kehancuran atau tercerai berai, maka tentu saja ikatan yang terbingkai dalam “<em>aqd al-nikah</em>” menjadi terlepas.</p>
<p>2. Ada konsekwensi yuridis dan metafisis.</p>
<p>Kehidupan rumah tangga yang diikat dengan “<em>aqd al-nikah</em>” jelas berbeda dengan kehidupan di luar koridor pernikahan. Ada “akibat-akibat” yang menyertai kehidupan dalam lingkaran pernikahan yang seharusnya dijauhi oleh kedua mempelai. Sebab, apabila batasan-batasan yang sudah ditentukan dilanggar, maka ada konsekwensi-konsekwensi pudarnya ikatan pernikahan. Perceraian merupakan bagian dari akibat macam-macm “talak”. Sementara penyebab terjatuhnya talak itulah yang harus dihindari semaksimal mungkin. Ancaman jatuhnya talak atau perceraian yang diatur dalam ajaran agama ini diharapkan menjadi semacam rambu-rambu yang menyebabkan kedua mempelai bisa berhati-hati dalam melaksnakan pergaulan diantara mereka berdua.</p>
<p>Tetapi meski konsekwensi itu tetap terjadi, baik dalam perceraian atau karena kematian, ikatan kekeluargaan tidak serta merta  menjadi bubar dan hilang. Seorang anak (gadis) misalnya, sebagai buah pernikahan, ia tetap membutuhkan ayah kandungnya untuk menjadi wali pernikahannya, meski ayahnya telah bercerai dari ibunya. Seluruh anak tetap berkewajiban berlaku baik dan mendoakan kepada ayah-ibunya, walaupun keduanya telah dipanggil ke Rahmat Ilahi.</p>
<p>3. Pertemuan dua keluarga besar.</p>
<p>Dalam pandangan Nabi Muhammad saw, akad nikah tidak semata-mata ikatan dua anak manusia yang dijalin cinta kasih saja. Tetapi wujud pernikahan juga mempertemukan dua keluarga besar  yang memiliki latarbelakang adat istiadat dan kebudayaan yang berbeda. Hal ini tergambar dari kenyataan dalam agama bahwa kedua keluarga itu diberi peran yang proporsional dalam rangka menjaga dan mempertahankan keutuhan rumah tangga yang di bangun oleh kedua mempelai bila terjadi konflik di antara keduanya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah terkait dengan penyelesaian persoalan kedua mempelai yang dapat diperankan oleh dua keluarga besar (QS. Al-Nisa:35).</p>
<p>Dalam perspektif agama Islam, “<em>aqd al-nikah</em>” juga dapat bermakna simpul-simpul pertemuan dua adat dan kebudayaan berbeda yang merupakan upaya dan ikhtiar melelahkan. Tetapi agama Islam mencoba mempertemukan dalam perkenalan dua kebudayaan berbeda dalam konteks pernikahan. Tentu saja sikap dan langkah yang penuh perhitungan, kearifan, saling pengertian dan kesabaran merupakan dasar utama dalam menjembatani jarak dua budaya yang berbeda.</p>
<p>Sedemikian kompleks hubungan yang terjalin dalam ikatan pernikahan dan begitu jauh implikasi yang ditimbulkan, membuat “<em>aqd al-nikah</em>” memiliki nilai sakral yang selalu diagungkan. Oleh karenanya, salah besar anggapan sementara orang bahwa pernikahan hanya dihitung dengan pertimbangan-pertimbangan material belaka atau apalagi klaim wujud pernikahan demi untuk mengeruk kesenangan saja.</p>
<p>Pada hakikatnya, orang memutuskan untuk mengikat dirinya dengan tali pernikahan, berarti ia telah berani mengambil tugas dan tanggungjawab mulia. Oleh karenanya, Nabi Muhammad saw, mempersilahkan bagi mereka yang sudah siap lahir-batin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madarikyahya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madarikyahya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madarikyahya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madarikyahya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madarikyahya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madarikyahya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madarikyahya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madarikyahya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madarikyahya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madarikyahya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madarikyahya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madarikyahya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madarikyahya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madarikyahya.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=122&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/10/18/hikmah-walimah-al-%e2%80%98arusy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35e321924eeebc57ae4e8632682fe3aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madarikyahya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERSOALAN TRADISI TAHLIL</title>
		<link>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/persoalan-tradisi-tahlil/</link>
		<comments>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/persoalan-tradisi-tahlil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 11:26:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madarikyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madarikyahya.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Terhadap upacara ritual yang isi di dalamnya tahlil, masyarakat terbelah dalam mensikapi fenomena itu. Paling tidak, ada dua kelompok yang dinilai memiliki pandangan berbeda di tengah-tengah masyarakat : 1. Komunitas non nahdliyin: Kelompok ini berpandangan bahwa praktek tahlil yang marak dilakukan masyarakat merupakan amalan pembodohan, tidak berdasar tuntunan dari Rasulallah saw, dan dapat dianggap sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=119&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terhadap upacara ritual yang isi di dalamnya tahlil, masyarakat terbelah dalam mensikapi fenomena itu. Paling tidak, ada dua kelompok yang dinilai memiliki pandangan berbeda di tengah-tengah masyarakat :</p>
<p>1. Komunitas non nahdliyin:</p>
<p>Kelompok ini berpandangan bahwa praktek tahlil yang marak dilakukan masyarakat merupakan amalan pembodohan, tidak berdasar tuntunan dari Rasulallah saw, dan dapat dianggap sebagai kegiatan menyesatkan (<em>bid’ah dlalalah</em>)</p>
<p>2.  Golongan kaum nahdliyin:</p>
<p>Kelompok ini adalah pelaku kegiatan tahlil yang memiliki penilaian bahwa rutinitas ritual tersebut jelas bukan ajaran yang keluar dari jalur tuntunan Nabi Muhammad saw, (<em>bid’ah</em>), apalagi menyesatkan (<em>dlalalah</em>). Sebab, bagaimana mungkin praktek ritual semacam itu menjadi menyesatkan, padahal sudah banyak para ulama yang kemampuan keilmuan dan amalnya tidak diragukan lagi.</p>
<p>Di sinilah hukum tentang tahlil itu perlu diuarai kembali, agar berbagai kelompok menyadari bahwa pendapat yang pegangnya tentang tahlil tidak selamanya benar dan pendapat yang dipercaya orang lain tidak selalu salah. Dengan prinsip ini diharapkan akan tercipta kondisi kondusif bagi semua lapisan masyarakat.</p>
<p><strong>Pengertian Tahlil</strong></p>
<p>Pengertian tahlil yang dimaksud di sini ialah:</p>
<p>Suatu bacaan <em>La Ilaha Illa Allah</em> plus bacaan-bacaan tertentu tanpa mengikat yang pahalanya diniatkan kepada pihak-pihak yang dimaksudkan.</p>
<p><span id="more-119"></span></p>
<p>Hukum tahlil dengan pengertian di atas, memunculkan dua pendapat berbeda di antara para ulama:</p>
<ol>
<li>Golongan yang mengatakan bahwa pahala bacaan-bacaan sama sekali tidak bisa sampai kepada pihak yang dituju, termasuk orang mati. Kelompok ini diprakarsai oleh Imam Malik dan Imam Syafi’i serta sebagian pengikutnya (<em>ashhab al-Syafi’iyah</em>).</li>
</ol>
<p>Dasar-dasar mereka:</p>
<p>a)      Al-Quran</p>
<p><strong>وأن ليس للإنسان إلا ما سعى (النجم</strong><strong>: 39)</strong></p>
<p><strong>لها ما كسبت وعليها ما اكتسبت (البقرة</strong><strong>:286)</strong></p>
<p><strong>ولا تجزون إلا ما كنتم تعملون (يس:36) </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>b)      Al-Hadits</p>
<p><strong>عن ابى هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به اوولد صالح يدعو له (رواه المسلم)</strong></p>
<p><strong>عن ابن عباس أنه  صلى الله عليه وسلم قال: لا يصلى احد عن احد ولا يصوم احد عن احد ولكن يطعم عنه مكان كل يوم مدا من حنطة (رواه النسائي)</strong></p>
<p><strong>عن نافع عن ابن عمر أنه صلى الله عليه وسلم قال: من مات وعليه صوم رمضان يطعم عنه (رواه ابن ليلى) </strong></p>
<ol>
<li>Golongan yang mengatakan bahwa pahala bacaan-bacaan bisa sampai kepada pihak yang di tuju, termasuk mayit. Masuk ke dalam kelompok ini adalah Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad Ibn Hambal bersama sebagian pengikutnya (<em>ashhab al-Hanabila</em>), dan sebagian pengikut Imam Syafi’i (<em>ashhab al-Syafi’iyah</em>).</li>
</ol>
<p>a)       Al-Quran</p>
<p><strong>والذين جاؤا من بعدهم يقولون ربنا اغفرلنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان (الحشر: 10)</strong></p>
<p><strong>واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات (محمد:19)</strong></p>
<p>b)      Al-Hadits</p>
<p><strong>عن أبى عبد الرحمن عن عوف بن مالك : صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على جنازة فحفظت من دعائه وهو يقول: (اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه واكرم نزوله ووسع مدخله واغسله بالماء والثلج والبرد ونقه من الخطايا كما نقيت الثوب الابيض من الدنس وابدله دارا خيرا من داره واهلا خيرا من اهله وزوجا خيرا من زوجه وادخله الجنة واعذه من عذاب القبر ومن عذاب النار) حتى تمنيت ان اكون انا ذلك الميت (رواه المسلم)</strong></p>
<p><strong>عن عبد الله بن عمر قال صلى الله عليه وسلم: اذا مات احدكم فلا تحبسوه واسرعوا به الى قبره وليقراء عند رأسه بفاتحة البقرة وعند رجليه بخاتمة البقرة (رواه البيهاقى والطبرانى)</strong></p>
<p>Kelompok kedua ini ternyata di dukung oleh banyak ulama, diantara mereka adalah :</p>
<p>1)      Imam Abu Hanifah dan sebagian besar pengikutnya (<em>jumhur al-shhabih</em>)</p>
<p>2)      Imam Ahmad Ibn Hambal dan sebagian besar pengikutnya (<em>jumhur al-shhabih</em>)</p>
<p>3)      Imam Nawawi</p>
<p>4)      Imam Ibn Hajr al-Haitami</p>
<p>5)      Imam al-Sayid Umar al-Barokat</p>
<p>6)      Al-allamah Ibn Qudamah</p>
<p>7)      Syaikh al-Islam Abu Abbas Ibn Taimiyah</p>
<p>8)      Imam al-Syaukani</p>
<p>9)      Imam al-Sya’rani</p>
<p>10)  Ibn Abi al-Iz al-Hanafi</p>
<p>11)  Al-allamah al-Syaikh Abd. Hamid al-Syarwani</p>
<p>12)  Al-allamah al-Imam Ahmad Ibn Qosim al-Abadi</p>
<p>13)  Al-Syaikh Sulaiman al-Bujairimi</p>
<p>14)  Al-Sayid Abi Bakr Ibn Muhammad Syatho</p>
<p>Dari beberapa uraian ini dapat kita pahami tradisi tahlil yang dilestarikan kaum Nahdliyin ternyata mengikuti beberapa ulama yang dinilai memiliki kualitas keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan, meski kalangan yang enggan dengan rutinitas tahlil dalam berbagai even itu harus tetap kita hargai pendapatnya, karena mereka juga bersandarkan pada dasar-dasar yang juga kuat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madarikyahya.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madarikyahya.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madarikyahya.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madarikyahya.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madarikyahya.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madarikyahya.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madarikyahya.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madarikyahya.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madarikyahya.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madarikyahya.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madarikyahya.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madarikyahya.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madarikyahya.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madarikyahya.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=119&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/persoalan-tradisi-tahlil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35e321924eeebc57ae4e8632682fe3aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madarikyahya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENUANGAN PESAN DALAM PROSES PENERJAMAHAN</title>
		<link>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/penuangan-pesan-dalam-proses-penerjamahan/</link>
		<comments>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/penuangan-pesan-dalam-proses-penerjamahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 11:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madarikyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Terjamah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/penuangan-pesan-dalam-proses-penerjamahan/</guid>
		<description><![CDATA[Istilah “penuangan pesan” dalam ranah penterjamahan memang agak lebih sesuai dipakai ketimbang istilah “pengalihan” teks sumber kepada teks sasaran. Definisi terjamah sebagai ‘kerja transfer pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran’ merupakan definisi yang lebih bersifat realistis dan operasional. Namun demikian, sesungguhnya terjamahan yang ideal adalah terjamahan yang tidak hanya berupaya mentransfer pesan, namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=117&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah “penuangan pesan” dalam ranah penterjamahan memang agak lebih sesuai dipakai ketimbang istilah “pengalihan” teks sumber kepada teks sasaran. Definisi terjamah sebagai ‘kerja transfer pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran’ merupakan definisi yang lebih bersifat realistis dan operasional. Namun demikian, sesungguhnya terjamahan yang ideal adalah terjamahan yang tidak hanya berupaya mentransfer pesan, namun juga seluruh teks sebagai totalitas, mulai dari bentuk lunguistik seperti susunan frase, susunan dan bentuk kalimat sampai kepada susunan implisit kalimat (<em>al-tarakib al-batinah</em>).</p>
<p>Hanya saja terjamahan semacam ini tergolong sikap utopia sebagian kalangan pelaku penterjamahan, mengingat bentuk-bentuk luar linguistik antara satu bahasa dengan bahasa yang lain, serta suasana budaya yang melingkarinya hampir-hampir mustahil untuk bisa sama persis hingga dapat dialihkan secara sempurna. Kalaupun umpama dilakukan dengan pemaksaan pengalihan bahasa sumber ke dalam behasa sasaran, hasil terjamahan tersebut biasanya justeru menjadi terjamahan yang ganjil menurut “rasa” bahasa sasaran. Hal ini dapat terjadi karena nuansa struktur gramatika dan style kalimat bahasa sumber terkadang tidak sama dengan bahasa sasaran.</p>
<p><span id="more-117"></span></p>
<p>Contoh, bahasa Arab yang diterjamahkan ke dalam bahasa Indonesia, jika dipahami sebagai pengalihan bahasa, maka kegiatan tersebut lebih tepat dianggap sebagai “pemaksaan jiwa bahasa” teks Arab kepada teks terjamahan bahasa Indonesia.</p>
<p>Disini dapat diangkat satu contoh dari bagaimana sulitnya mentransfer teks secara totalitas. Apabila ditelusuri struktur kalimat dalam bahasa Arab, maka secara mudah bisa digolongkan ke dalam dua bentuk:</p>
<p>[1] <em>Ismiyah</em> (<em>nominal sentence</em>)</p>
<p>[2] <em>Fi’liyah</em> (<em>verbal sentence</em>)</p>
<p>Dari dua bentuk tersebut di atas, kalau ditarik ke dalam bahasa Indonesia, maka yang didapati hanya satu bentuk, yaitu <em>Ismiyah</em> (<em>nominal sentence</em>). Sementara menterjamahkan bentuk-bentuk <em>Fi’liyah</em> (<em>verbal sentence</em>) ternyata lebih banyak digunakan daripada bentuk <em>Ismiyah</em> (<em>nominal sentence</em>) ke dalam bahasa Indonesia. Penetrjamahan dalam bentuk yang sama sangat sulit sekali, bahkan hampir-hampir mustahil.</p>
<p>Oleh karenanya, penerjamah harus tetap berusaha semaksimal mungkin mencari padanannya (equivalent) dalam bahasa sasaran dalam semua sisi yang berkaitan dengan kebahasaannya, baik dari aspek pesan, bentuk-bentuk linguistik, emosi penulis, suasana teks, maupun yang lainnya.</p>
<p>Penuangan padanan teks sumber bahasa ke dalam teks bahasa sasaran inilah yang menjadi inti dari tahap penuangan. Penuangan tidak selalu identik dengan penuangan ide, pikiran atau gagasan teks sumber bahasa belaka. Tetapi penuangan juga berhubungan dengan aspek-aspek lainnya. Hanya hal demikian ini perlu di ingat, apabila modal linguistik bahasa sasaran lebih miskin daripada bahasa sumber –- dan kondisi seperti ini sering terjadi dalam kasus penerjemahan dari bahasa dengan tingkat budaya yang tinggi ke dalam bahasa dengan derajat budaya yang lebih rendah –- maka yang harus dikejar oleh seorang penerjamah ialah menemukan pesan utama dari setiap satuan makna teks (<em>al-wihdah al-ma’nawiyah</em>).</p>
<p>Disinilah sebetulnya ketajaman firasat penerjamah dalam memilih kosa kata bahasa sasaran yang benar-benar sesuai dengan bahasa sumber diuji. Sebab, satuan makna teks (<em>al-wihdah al-ma’nawiyah</em>) tidak secara otomatis dapat ditemukan padanannya secara efektif dalam bahasa sasaran.</p>
<p>Oleh karena itulah, penerjamah harus betul-betul pandai, “cerdas” dan terampil dalam memilih padanan di dalam bahasa sasaran. Kepandaian, “kecerdasan” dan keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh penerjamah pada dasarnya dapat direngkuh dengan berbagai upaya, antara lain.</p>
<p>ü  Membolak-balik susunan kata dalam kalimat bahasa sasaran</p>
<p>ü  Memberikan tekanan dalam bahasa sasaran</p>
<p>ü  Mengurangi tekanan dalam bahasa sasaran</p>
<p>ü  Mengurangi keluasan makna yang dimiliki bahasa sumber</p>
<p>ü  Memberikan keluasan makna dalam bahasa sasaran</p>
<p>ü  Upaya-upaya penyesuaian yang dapat dikembangkan sesuai tingkat kemampuan yang dipunyai oleh penerjamah.</p>
<p>Kepandaian, “kecerdasan” dan keterampilan seperti ini harus di bangun mulai sejak dini dan terus dipelihara hingga betul-betul menjadi bagian dari dirinya sendiri. Akhirnya begitu seorang penerjamah yang memiliki “kepribadian“ dengan kriteria demikian itu, kegiatan terjamah tidak lagi menjadi persoalan yang menyesakkan dada. Karena baginya, orientasi terjamah minimal adalah bagaimana hasil terjamahan cukup mewakili pesan teks sumber, nikmat dan tidak ganjil.</p>
<p>Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa  terdapat dua kutub dalam proses penuangan ke dalam bahasa sasaran. Kutub pertama, hanya menuangkan maknanya saja. Kutub ini berstandart minimal. Kutub kedua, menerjamah teks secara totalitas. Sedangkan kutub ini memakai ukuran ideal.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madarikyahya.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madarikyahya.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madarikyahya.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madarikyahya.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madarikyahya.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madarikyahya.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madarikyahya.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madarikyahya.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madarikyahya.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madarikyahya.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madarikyahya.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madarikyahya.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madarikyahya.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madarikyahya.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=117&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/penuangan-pesan-dalam-proses-penerjamahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35e321924eeebc57ae4e8632682fe3aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madarikyahya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LANGKAH-LANGKAH TEKNIS DALAM PROSES PENERJAMAHAN</title>
		<link>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/langkah-langkah-teknis-dalam-proses-penerjamahan/</link>
		<comments>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/langkah-langkah-teknis-dalam-proses-penerjamahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 11:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madarikyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Terjamah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madarikyahya.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Menterjamah seharusnya dilakukan setelah melakukan kegiatan penentuan teks yang hendak diterjamahkan. Penentuan ini tentu saja disesuaikan dengan keinginan yang ada pada diri penterjamah setelah mempertimbangkan segala hal. Setelah selesai penentuan ini, proses selanjutnya adalah penyelaman naskah sumber. Proses ini memerlukan beberapa tahap yang sebaiknya dilakukan oleh orang yang hendak menterjamah teks Arab. Pertama, pemahaman teks [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=115&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menterjamah seharusnya dilakukan setelah melakukan kegiatan penentuan teks yang hendak diterjamahkan. Penentuan ini tentu saja disesuaikan dengan keinginan yang ada pada diri penterjamah setelah mempertimbangkan segala hal. Setelah selesai penentuan ini, proses selanjutnya adalah penyelaman naskah sumber. Proses ini memerlukan beberapa tahap yang sebaiknya dilakukan oleh orang yang hendak menterjamah teks Arab.</p>
<p><em>Pertama</em>, pemahaman teks secara global. Hal ini dapat diupayakan dengan beberapa cara, antara lain; [1] pembacaan judul secara cermat dan teliti dengan mengeja setiap kalimat yang membentuk judul tersebut. Tidak sedikit dari isi sebuah karangan, terwakili oleh susunan kata dalam judul. Apalagi, umumnya judul buku-buku berbahasa Arab lebih bersifat <em>direct</em> dibandingkan kebanyakan judul buku-buku berbahasa Indonesia. [2] pembacaan secara baik daftar isi. Uraian-uraian dalam beb-bab yang terdapat di dalam daftar isi kadang-kadang mencerminkan garis besar maksud tulisan yang akan diterjamah. Setidaknya, pembacaan terhadap daftar isi akan sedikit membantu penerjamah dalam mencari arah utama pemikiran dari buku tersebut. Daftar isi acapkali berperan menjadi rujukan yang mempercepat pembaca mencari bab-bab yang dirasa penting dan yang diperlukan. [3] pembacaan dengan teliti terhadap epilog. Epilog adalah merupakan bagian tulisan langsung dari pengarang atau dari editor yang</p>
<p><span id="more-115"></span></p>
<p>mengurai isi ecara ringkas dan padat. Bagi pihak yang menghendaki penterjamahan buku, tahap ini merupakan poin inti yang tidak seharusnya ditinggalkan untuk menemukan gambaran global dari isi karangan secara keseluruhan.</p>
<p><em>Kedua</em>, pemahaman tentang posisi buku. Sebuah karya tulis dengan muatannya mesti berada pada posisi tertentu di atas hasil karya tulis lain. Dengan kata lain, suatu gagasan-gagasan, pemikiran besar atau ide dasar tidak akan pernah lahir dari ruang hampa. Sebuah karya tulis pasti muncul akibat respon terhadap segala macam gejala atau fenomena-fenomena sekecil  apapun bentuknya. Bisa saja karya itu digagas sebagai hasil penemuan, penguatan, sanggahan atau malah justru penolakan terhadap pemikiran yang lain. Atau barangkali tulisan itu berada pada posisi sikap netral yang tidak memiliki kecendrungan penguatan atau penolakan terhadap pemikiran sebelumnya. Pemahaman tentang posisi buku tersebut menjadi penting, tatkala penerjamah menginginkan tema tertentu yang berkaitan dengan corak pemikiran tertentu pula. Misalnya, penerjamah bermaksud mengangkat tema yang berhubungan dengan masalah politik pro demokrasi, maka memahami posisi buku yang akan diterjamah dalam ranah tersebut mutlak diperlukan.</p>
<p><em>Ketiga</em>, pembacaan teks secara sepintas terhadap bagian-bagian atau keseluruhan dari isi buku. Jika tahap pertama dan kedua sudah dilewati seserius mungkin agar hasilnya menjadi lampu petunjuk terhadap seluruh isi buku secara global bagi penerjamah, maka pada tahap ini penerjamah justru diharapkan melakukan pembacaan dengan kondisi santai dan rileks, karena tidak dibutuhkan pemikiran yang serius untuk menghasilkan pemahaman dari pembacaan tersebut. Asalkan sudah dapat ditelusuri bacaan dalam buku itu meskipun tidak seratus persen dimengerti, langkah ini adalah sesuatu yang maksimal bagi penerjamah untuk dapat merasakan suasana dan nuansa pemakaian bahasa dalam buku sedikit demi sedikit. Pembacaan dengan cara demikian ini dapat dilakukan misalnya, membaca sekilas pada bagian pertama ketika menunggu kendaraan umum, kemudian dilanjutkan pada bagian berikutnya di saat menunggu anggota keluarga keluar dari pasar, dan pada bagian selanjutnya tatkala menunggu  siapa saja dan di mana saja.</p>
<p>Melalui pembacaan demikian ini, penerjamah sering sekali menemukan kosa kata yang terasa “sentral” dalam berbagai bab, beberapa halaman atau bahkan keseluruhan buku. Kadang kala akan dijumpai kalimat-kalimat yang terasa “janggal” di salah satu atau setiap halaman yang dilewatinya. Sepanjang penerjamah menemukan arti kata, makna kalimat dan susunan kosa kata yang belum diketahui persis atau penerjamah ragu-ragu terhadap semua itu, maka tidak ada salah ia mencatat ulang apa yang dialaminya untuk kemudian diupayakan dicarikan arti dari semuanya di dalam kamus-kamus yang cukup memadai. Teknis begini ini sering kali dianggap sepele oleh sebagian orang, tetapi bagi kegiatan penerjamahan merupakan cicilan beban yang dapat mengurangi pundi-pundi penumpukan pekerjaan di kemudian hari.</p>
<p>Langkah demikian itu, dalam proses penerjamahan terkadang juga bisa membantu pelaku terjamah agar tidak terjebak ke dalam jurang kebosanan yang ternyata acapkali menjadi momok bagi mayoritas para penerjamah. Sebab kenapa ? Karena kosa kata yang maknanya kurang dipahami atau lupa untuk dimengerti oleh penerjamah pada saat sebelumnya, kadang-kadang dengan langkah-langkah sebagaimana di atas menjadikan penerjamah tertolong untuk teringat kembali. Kadang pula iangatan itu kembali datang, tatkala kosa kata yang dijumpai dirangkaikan dengan konteks kalimat lain. Lebih-lebih lagi, apabila kosa kata yang digunakan oleh penulis buku sering di ulang dalam berbagai halaman. Karena sepandai apapun penulis sebuah buku akan memiliki keterbatasan perbendaharaan variasi kosa kata, bentuk kalimat dan bahkan susunan kata-kata (<em>uslub al-kalimaat</em>). Oeh sebab itulah, pengulangan pemakaian istilah di sana sini merupakan kebiasaan (watak) yang <em>natural</em> dan hampir semua orang mempunyainya.</p>
<p><em>Keempat</em>, pada tahap terakhir ini adalah pembacaan teks buku secara serius dan mennyeluruh. Penerjamah seyogyanya melakukan kegiatan pembacaan mulai dari awal hingga akhir, terutama isi bab perbab. Di samping itu, ia dapat melakukan pencarian makna kata yang belum diketahui melalui bantuan kamus secara tuntas.</p>
<p>Pada tahap ini, sebaiknya penerjamah tidak tergesa-gesa menterjamahkan teks buku yang sudah dipelajarinya. Berdasar hasil penterjamahan yang baik, penerjamah lebih <em>afdhal</em> (lebih bagus) membaca kembali naskah buku yang akan diterjamah dalam hitungan yang tidak berjumlah. Contohnya, 3 – 10 kali atau satu – dua bab buku tersebut sambil mengkoreksi kekurangpahaman yang miliki penerjamah. Langkah ini bukan hal yang wajib dilakukan oleh penerjamah, tetapi acapkali penerjamah dapat diperkaya perbendaharaan kosa kata, sehingga lebih memudahkan dia untuk memulai penterjamahan naskah. Bahkan pembacaan ulang ini, memberikan peluang yang cukup luas bagi penerjamah untuk mempertegas kembali makna kosa kata yang “masih ragu-ragu” untuk di pahami dengan bantuan kamus. Setelah dibaca berulang kali untuk memperoleh pesan dan suasana teks sumber seutuhnya, barulah penerjamah bisa melakukan proses penterjamahan ke dalam bahasa sasaran.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madarikyahya.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madarikyahya.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madarikyahya.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madarikyahya.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madarikyahya.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madarikyahya.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madarikyahya.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madarikyahya.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madarikyahya.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madarikyahya.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madarikyahya.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madarikyahya.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madarikyahya.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madarikyahya.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=115&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/langkah-langkah-teknis-dalam-proses-penerjamahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35e321924eeebc57ae4e8632682fe3aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madarikyahya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AURAT DAN PORNOGRAFI DALAM POLEMIK</title>
		<link>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/aurat-dan-pornografi-dalam-polemik/</link>
		<comments>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/aurat-dan-pornografi-dalam-polemik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 10:29:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madarikyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Gender]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madarikyahya.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Menarik tulisan yang disuguhkan oleh Hizbullah Mahmud di internet. Ia kemukakan tentang dampak negatif yang ditimbulkan oleh keterbukaan aurat lawan jenis, terutama bagi kaum laki-laki. Argumen Hizbullah Mahmud semakin meyakinkan setelah ia mengutarakan dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti Amerika tentang akibat gaya berpakain bebas bahwa gaya hidup demikian menyebabkan impotensi pada kaum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=110&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_112" class="wp-caption alignleft" style="width: 87px"><img class="size-thumbnail wp-image-112" title="Pornografi Atau Seni ?" src="http://madarikyahya.files.wordpress.com/2009/08/lia-emilia1.jpg?w=77&#038;h=150" alt="Pornografi Atau Seni ?" width="77" height="150" /><p class="wp-caption-text">Pornografi Atau Seni ?</p></div>
<p>Menarik tulisan yang disuguhkan oleh Hizbullah Mahmud di internet. Ia kemukakan tentang dampak negatif yang ditimbulkan oleh keterbukaan aurat lawan jenis, terutama bagi kaum laki-laki. Argumen Hizbullah Mahmud semakin meyakinkan setelah ia mengutarakan dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti Amerika tentang akibat gaya berpakain bebas bahwa gaya hidup demikian menyebabkan impotensi pada kaum adam. Karena penampilan seksi kaum hawa yang disaksikan oleh pria berbanding lurus dengan tingkat impotensi para lelaki.</p>
<p>Masih menurut Hizbullah Mahmud bahwa di negara-negara yang perempuannya bebas mengenakan pakaian yang mengumbar aurat, jumlah penderita impotensinya lebih tinggi dari negara-negara yang melarang perempuan mengumbar betisnya. Hal ini terjadi karena di pria mudah sekali terangsang dengan rangsangan visual namun tidak semua pria dapat menyalurkan libidonya yang memuncak itu.</p>
<p>Sebetulnya sangat masuk akal uraian Hizbullah Mahmud tersebut. Secara psikologis, semakin sering seseorang melihat dan menyaksikan sesuatu yang bisa terangsang, maka akan makin membuat daya seksualitas kian melemah. Ketertarikan terhadap sesuatu muncul akibat gelora keinginan-keinginan yang tersumbat. Tatkala pintu keinginan-keinginan sudah menganga, maka gelora itu akan mengalami penurunan. Tentu saja sebagaimana diungkapkan oleh Hizbullah Mahmud bahwa berbagai fenomena lain seperti, banyaknya terjadi penyimpangan seksual serta tingginya tingkat prostitusi menjadi salah satu akibat yang dimunculkan oleh gaya hidup berpakaian yang bebas.</p>
<p>Hizbullah Mahmud kemudian menguraikan tentang aurat dari sisi pandangan Islam. Penjelasan itu cukup bagus sekali karena detail dan gamblang. Ia mulai dari definisi dalam dimensi bahasa, lalu di urai pula hukum, landasan yang mendasari lahirnya hukum itu, baik firman Allah swt., dalam al-Quran maupun sabda Nabi Muhammad saw., dalam al-Hadits, dan pendapat para fuqaha tentang aurat.</p>
<p>Aurat secara bahasa bermakna <em>al-naqsu</em> yang berarti kurang atau aib adapun secara istilah sesuatu yang tidak diboleh dilihat atau dipertontonkan. Menutup aurat wajib hukumnya dan ini telah menjadi kesepakatan para ulama baik klasik maupun kontemporer kecuali untuk keperluan darurat seperti buang air besar atau mandi dsb. Hal ini berdasarkan hadist Nabi ; &#8220;Aisyah meriwayatkan, bahwa saudaranya yaitu Asma&#8217; binti Abubakar pernah masuk di rumah Nabi dengan berpakaian jarang sehingga tampak kulitnya. Kemudian beliau berpaling dan mengatakan:<em> &#8220;Hai Asma&#8217;! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah datang waktu haidh, tidak patut diperlihatkan tubuhnya, melainkan ini dan ini &#8212; sambil ia menunjuk muka dan dua tapak tangannya&#8221;. </em>Batasan aurat Menurut mazhab Hanafi, aurat laki-laki mulai dari bawah pusar sampai bawah lutut, hal ini berdasarkan ma’tsur (perkataan sahabat); &#8220;Aurat laki-laki apa yang ada diantara pusar dan lututnya atau apa yang ada dibawah pusar sampai lutut. Sedangkan aurat perempuan seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan&#8221;. Firman Allah: &#8220;<em>Janganlah orang-orang perempuan menampakkan perhiasannya, melainkan apa yang biasa tampak dari padanya</em>&#8221; (QS : An Nur :31). Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar maksud perhiasan yang biasa nampak dalam ayat ini adalah wajah dan telapak tangan.</p>
<p>Lebih menarik lagi dari tulisan Saudara Hizbullah Mahmud itu  ialah ia kemudian mencoba mengkritisi fenomena yang beberapa waktu lalu sempat menghangat, yaitu persoalan pro-kontra RUU Pornografi dan Pornoaksi. Sebagaimana pernah kita saksikan bahwa ada dua kelompok yang muncul akibat RUU tersebut. Kelompok pertama merupakan golongan yang mengimpikan ajaran Islam tentang aurat betul-betul dilaksanakan di Republik ini sesuai syariat Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Menurut mereka, sebagai mayoritas di tanah air ini, umat Islam memikul tanggungjawab besar terhadap pelaksanaan ajaran-ajaran agamanya dalam proses berbangsa dan bernegara. Dalam lingkup individu saja, pelaksanaan syariat Islam harus diupayakan semaksimal mungkin, apalagi kehidupan umat muslim dalam bentuk kolektif. Kelompok ini juga menegasikan bahwa segala macam cobaan dan ujian yang menimpa bangsa ini tidak menutup kemungkinan bermula dari “kemurkaan” Tuhan menyaksikan syariat Nabi-Nya yang tidak dihiraukan. Posisi mayoritas yang dimiliki kaum muslim di pandang sebagai anugerah dari Tuhan sekaligus amanah-Nya. Kenikmatan dan amanah inilah yang harus dinomorsatukan ketimbang urusan lainnya dalam hal mensyukuri dan melaksanakan apa yang telah ditugaskan oleh-Nya.</p>
<p>Kelompok kedua merupakan komunitas yang menghendaki kebebasan berkarya, berkreasi dan berekspresi. Bagi kelompok ini, kebebasan harus lebih didewakan guna memberikan ruang yang lebih luas bagi potensi manusia untuk dikembangkan. Jangan malah ada pengekangan yang menelikung gerak ekspresi yang perlu di gali dari rahasia-rahasia yang sebetulnya telah diciptakan oleh Tuhan. Disinilah hakikat kebersyukuran manusia kepada anugerah Tuhan yang sudah dilimpahkan. Keindahan dan nilai seni yang terdapat pada semua alam ini, termasuk di dalam tubuh, sebagai bagian dari ciptaan-Nya perlu diekspresikan sedemikian rupa dalam bingkai seni, sehingga meniscayakan ketakjuban luar biasa kepada Sang Pencipta.</p>
<p>Lebih-lebih, masih menurut golongan ini, kategori pornografi belum jelas batasan-batasannya dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara, sehingga sulit untuk ditarik definisi secara detail dan mengikat. Ada perlaku-perilaku yang masih dipandang tumbang-tindih antara nilai-nilai normatif dan muatan-muatan tradisi yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Sebagian dari sekian aneka ragam budaya yang dimiliki bangsa ini terkadang melintasi dan bahkan terkadang bertabrakan dengan norma-norma agama, seperti adat istiadat kaum dayak di berbagai belahan daerah Kalimantan atau upacara-upacara adat di sebagian daerah Jawa. Tetapi sungguhpun demikian, tetap saja aneka ragam budaya dinilai absah dan perlu untuk dilesatarikan sebagai khazanah kekayaan budaya Indonesia. Argumentasi yang diangkat kelompok kedua ini ialah apakah budaya demikian itu dapat di golongkan sebagai tindakan pornografi?</p>
<p>Hal terpenting bagi kelompok ini ialah penghargaan sedalam-dalam kepada siapapun, meskipun diekspresikan dalam bentuk yang paling minimal. Lihatlah misalnya sikap yang dicontohkan oleh Budayawan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berpendapat lain soal goyang “ngebor” pedangdut Inul Daratista. Ia menyatakan agar setiap orang menghoramai cara seniman berekspresi. “Soal cara berekspresi, itu hak setiap individu, demikian juga hak untuk tidak suka. Menjadi masalah bila kita mengajak pihak lain untuk mengikuti sikap ketidaksukaan kita kepada cara berekspresi orang lain. Biarkan masyarakat menilai sendiri dengan netral. Kalau menyimpang dari norma-norma yang disepakati, akan dengan sendirinya ditinggalkan masyarakat,” kata Gus Dur dalam sebuah kesempatan.</p>
<p>Perdebatan kedua golongan tersebut hingga kini masih terus berlanjut seiring roda masa yang bergulir tanpa berkesudahan. Langkah kompromi kedua belah pihak agaknya sulit untuk diwujudkan, karena masing-masing bersikukuh dengan argumentasi yang diyakini. Masing-masing golongan merasa dirinya benar dengan pendapat yang dikumandangkan berdasar klaim bahwa pendapat mereka dilandaskan pada  dasar-dasar yang dinilai kuat menurut anggapan masing-masing mereka.</p>
<p>Di negeri yang selalu mengedepankan hukum dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi ini, tentu bukan sikap yang bijak apabila kita memaksakan salah satu golongan untuk tunduk kepada pendapat kelompok yang lain. Tetapi membiarkan silang pendapat ini menjadi wacana publik yang terus bergulir merupakan salah satu sikap yang berpangkal kepada kesadaran untuk melakukan proses pendewasaan masyarakat. Dengan demikian diharapkan masyarakat mampu menilai mana yang baik dan mana yang buruk sesuai dengan dasar-dasar berfikir yang berkembang di tengah-tengah masyarakat itu sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madarikyahya.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madarikyahya.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madarikyahya.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madarikyahya.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madarikyahya.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madarikyahya.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madarikyahya.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madarikyahya.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madarikyahya.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madarikyahya.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madarikyahya.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madarikyahya.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madarikyahya.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madarikyahya.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=110&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/aurat-dan-pornografi-dalam-polemik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35e321924eeebc57ae4e8632682fe3aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madarikyahya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madarikyahya.files.wordpress.com/2009/08/lia-emilia1.jpg?w=77" medium="image">
			<media:title type="html">Pornografi Atau Seni ?</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU TIDAK LELAH</title>
		<link>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/aku-tidak-lelah/</link>
		<comments>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/aku-tidak-lelah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 10:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madarikyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Kebudayaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madarikyahya.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Kini ku berjalan di lorong waktu dan ruang yang senyap Aku tak pernah letih, meski kepalaku kosong dan langkah Kakiku gontai. Karena kutahu keyakinanku melebihi batas kehendakku. Aku berucap kepada Tuhan: Terimakasih Tuhan, ku terima Sabda-Mu By. Abuya, [tatkala di Al-Qolam Gondanglegi Malang 2008]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=108&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kini ku berjalan di lorong waktu dan ruang yang senyap</p>
<p>Aku tak pernah letih,</p>
<p>meski kepalaku kosong dan langkah Kakiku gontai.</p>
<p>Karena kutahu</p>
<p>keyakinanku melebihi batas kehendakku.</p>
<p>Aku berucap kepada Tuhan:</p>
<p>Terimakasih Tuhan, ku terima Sabda-Mu</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">By. Abuya, [tatkala di Al-Qolam Gondanglegi Malang 2008]</span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madarikyahya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madarikyahya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madarikyahya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madarikyahya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madarikyahya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madarikyahya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madarikyahya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madarikyahya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madarikyahya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madarikyahya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madarikyahya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madarikyahya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madarikyahya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madarikyahya.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=108&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/08/17/aku-tidak-lelah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35e321924eeebc57ae4e8632682fe3aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madarikyahya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM KELUARGA</title>
		<link>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/07/28/kedudukan-perempuan-dalam-keluarga/</link>
		<comments>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/07/28/kedudukan-perempuan-dalam-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 08:20:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madarikyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Gender]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madarikyahya.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[اوَاللاتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْاهُنّ , فَإِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلاً, إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا ”Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka,dan pukulah mereka,kemudian jika mereka menaatimu,maka janganlah kamu mencari-cari Jalan untuk menyusahkannya.Sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha besar(An-nisa’:34) Firman Allah ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=84&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>اوَاللاتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْاهُنّ , فَإِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلاً, إِنَّ</strong></p>
<div id="attachment_85" class="wp-caption alignleft" style="width: 137px"><strong><strong><img class="size-full wp-image-85" title="Suami Di atas, istri di bawah" src="http://madarikyahya.files.wordpress.com/2009/07/suamiistri-ii.jpeg?w=540" alt="Suami Di atas, istri di bawah"   /></strong></strong><p class="wp-caption-text">Suami Di atas, istri di bawah</p></div>
<p><strong>اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا<br />
</strong></p>
<p><em>”Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka,dan pukulah mereka,kemudian jika mereka menaatimu,maka janganlah kamu mencari-cari Jalan untuk menyusahkannya.Sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha besar(An-nisa’:34)</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Firman Allah ini ditujukan untuk para suami.  Maksud dari kata <strong>“An-nusyuz</strong>” adalah pembangkangan yang dilakukan oleh seorang istri. Tandanya bisa melalui perkataan atau perbuatan, seperti meninggikan intonasi suaranya di depan suami, sengaja tidak menjawab jika dipanggil, tidak segera melaksanakannya bila diperintah suami, tidak tunduk bila diajak bicara, tidak menghormati ketika suami bersamanya atau menampakkan mimik ketidaksukaan pada suami .</p>
<p>Inilah definisi &#8220;An-nusyuz&#8221; yang terdapat dalam refrensi kitab-kitab klasik yang sering digunakan di lembaga-lembaga pesantren. Tentu saja batasan-batasan semacam ini akan menyisakan banyak tanya. Tetapi meski begitu kalangan pesantren tetap teguh dengan definisi ini.</p>
<p><span id="more-84"></span></p>
<p>Maka Allah memberikan jalan keluar dengan adanya problem seperti ini:</p>
<p>1. <strong>فَعِظُوْهُنَّ</strong><strong> </strong> (nasehatilah)</p>
<p>Yakni dengan cara menakut-nakuti dengan adanya Allah atau dengan cara mengingatkannya atas kewajiban seorang istri yakni hak-hak seorang suami, seperti ucapan :</p>
<p align="center"><strong>َّ</strong><strong>إِتَّقِي اللهَ فِى الْحَقِّ الْوَاجِبِ لِىْ عَلَيْكِ وَاحْذَرِيْ الْعُقُوْبَةَ وَيُبَيِّنُ اَنَّ النُشُوْزَ يَسْقُطُ النَفَقَةَ وَالْقَسَمَ</strong><strong> </strong></p>
<p>atau dengan cara yang lain tetapi tidak  dengan tidak melakukan tindak <em>kekerasan</em> kepada istri.</p>
<p>2.<strong>وَاهْجُرُوْهُنَّ </strong> (meninggalkan mereka)</p>
<p><strong> </strong>Yang dimaksud meninggalkan disini adalah pisah ranjang sementara waktu, dan tidak diperbolehkan meninggalkan mereka dalam hal ucapan (al-<em>hajr fi  al-kalam</em>).  Karena pisah ranjang saja sudah merupakan tindakan yang sangat berpengaruh terhadap psikologi mereka tanpa harus memukul mereka.</p>
<p>3.  <strong>وَاضْرِبُوْهُنّ</strong><strong>َ</strong>(pukullah mereka)</p>
<p>Apabila kedua cara di atas tadi tidak bisa merubah <em>nusyuz</em> mereka, maka cara yang ketiga adalah dengan cara memukul mereka.</p>
<p>Memukul di sini adalah dengan pukulan yang tidak menyakitkan, tidak memukul pada anggota wajah, atau pada tempat yang merusak anggota tubuh.  Pukulan tersebut hanya sekedar hukuman  (<em>ta’zyr</em>). Namun yang paling utama adalah memaafkan mereka :</p>
<p align="center"><strong>فَإِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنّ سَبِيْلاً, إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا</strong></p>
<p>Untuk lafadz ini menurut kami sudah sangat jelas sekali dan pasti semua orang khususnya bagi perempuan sangat amat setuju sekali dengan redaksi ini. Kami berfikir adanya seorang suami mencari–cari kesalahan istrinya. Mungkin karena kebosanan suami pada istri atau dikarenakan ada sifat istri yang kurang disukai. Meskipun seperti itu tetap bagi seorang suami tidak boleh mencari-cari kesalahan seorang istri seperti yang tertuang dalam hadits:</p>
<p align="center"><strong>لا  َيَفْرِكُ (يَبْغُضُ) مُؤْمِنٌ  مُؤْمِنَةً  إِِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُُُقًا رَضِيَ مِنْهَا خُلُقًا اَخَر </strong></p>
<p>“<em>Janganlh laki-laki mukmin membenci istrinya yang mukminah.Bila ada perangai istri yang tidak disukai,dia pasti ridho(senang)dengan perangai istri yang lain</em>.” (HR.Muslim)<em> </em></p>
<p>Mengingat kata  “pisah ranjang”  pada cara yang kedua, kami penulis sempat terlintas tentang seks antara suami istri. Kami beranggapan yang lebih banyak menikmati hubungan tersebut adalah suami, sementara istri hanya melayani, soal rasa bagi istri mungkin dinomor-duakan. Sebagian karena takut suaminya marah, sebagian lagi karena merasa sudah begitulah kodratnya sebagai seorang istri.</p>
<p>Ketika membaca ulang alenia di atas sedikit terlintas sebuah pertanyaan” Apakah seks bagi perempuan merupakan suatu kewajiban atau hak?”</p>
<p>Apa bedanya? Jelas beda.</p>
<p>Bedanya,  apabila hubungan seks bagi istri adalah hak, maka baginya ada ruang untuk memilih apakah akan melakukannya atau tidak, juga ruang untuk memilih waktu dan caranya. Tapi jika semata-mata adalah sebagai kewajiban, maka bagi kaum perempuan  hanya ada satu pilihan, yaitu melakukannya sekadar karena suami menghendaki baik istri suka atau tidak.</p>
<p>Jika hubungan seks bagi istri adalah hak, maka peristiwa itu bisa merupakan kenikmatan baginya. Tapi jika semata-mata sebagai kewajiban untuk melayani suami, bagi istri yang bersangkutan tidak menutup kemungkinan seks akan lebih dirasakan sebagai beban, bahkan mungkin derita.  Karena manusia tidak akan selalu dalam keadaan sehat.  Apalagi bagi seorang istri yang sekaligus berstatus ibu akan sangat merasa sangat letih atas pekerjaan sehari-harinya. Dengan melihat semua kenyataan ini hendaknya bagi seorang suami atau calon suami untuk lebih mengerti keadaan dan posisi seorang istri.</p>
<p>Kebanyakan bagi laki-laki yang kurang mengerti,  berbuat sewenang-wenang kepada istri dengan menggunakan landasan dari firman Allah Swt yaitu:</p>
<p><strong>أَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلىَ النِّسَاء ِبِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلىَ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوْا مِنْ أَمْوَالِهِمْ </strong></p>
<p><em>Artinya:”Kaum laki-laki adalah pemimpin kaum wanita,oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”.(QS.An-Nisa’:34)</em></p>
<p>Memang pada ayat ini dijelaskan bahwa laki-laki adalah seorang pemimpin tapi perlu diingat jadi pemimpin “<em>ojo sekarepe dewe</em>”.</p>
<p>Dalam ayat ini juga sudah dijelaskan tentang kelebihan laki-laki atas perempuan,  meskipun banyak perempuan yang menganggap ini sudah tidak relevan lagi.  Dengan alasan bahwa saat ini sudah banyak wanita yang tingkat kecerdasan, intelektual,  cara berfikir dan lain sebagainya sudah  menyamai laki-laki.  Bahkan tidak sedikit perempuan yang dalam bidang ekonomi, sosial, kekuatan fisik yang melebihi laki-laki. Tetapi bagaimanapun alasan yang diungkapkan, posisi wanita di bawah jauh lebih nikmat ketimbang di pinggir atau di atas laki-laki. <em>Wa Allah A’lam</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madarikyahya.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madarikyahya.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madarikyahya.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madarikyahya.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madarikyahya.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madarikyahya.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madarikyahya.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madarikyahya.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madarikyahya.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madarikyahya.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madarikyahya.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madarikyahya.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madarikyahya.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madarikyahya.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madarikyahya.wordpress.com&amp;blog=5837673&amp;post=84&amp;subd=madarikyahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madarikyahya.wordpress.com/2009/07/28/kedudukan-perempuan-dalam-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35e321924eeebc57ae4e8632682fe3aa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madarikyahya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madarikyahya.files.wordpress.com/2009/07/suamiistri-ii.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">Suami Di atas, istri di bawah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
