TATA CARA BERSUCI

Tata cara seorang pemeluk suatu agama dalam beribadah kepada Tuhannya mempunyai aturan yang berbeda. Orang Jahiliyah misalnya, mereka menghadap sesuatu yang dipertuhankan dalam keadaan telanjang bulat, sebab keyakinan mereka pakaian itu memberikan kesan tidak baik. Lantaran pakaian sudah dipergunakan berbuat dosa sehingga tidak layak dipakai untuk beribadat kepada Tuhan.

Tetapi lain halnya dengan agama Islam yang justru mensyariatkan kesucian luar-dalam (dzahiran wa batinan) untuk melakukan ibadah. Aspek luar (dzahir) meliputi badan, pakaian dan tempat yang harus suci dari najis. Sedangkan sisi dalam (batin) harus juga suci dari hadats basar atau kecil (al-hadats al-ashghar wa al-akbar). Hukum pelaksanaan penyucian ini wajib, karena menjadi pintu dari keabsahan ibadah yang hukum wajib, seperti shalat, sebagaimana disebutkan dalam kaidah fiqih:

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

Sesutu yang menyempurnakan perkara wajib, maka sesutu itu hukumnya wajib

Kalau hukum shalat wajib, maka wudlu hukumnya juga wajib karena menjadi sesuatu yang menyempurnakan pelaksanaan ibadah shalat. Sebagaimana untuk mensucikan diri dari hadats dengan wudlu, maka cara mensucikan diri dari najis yang keluar dari dua lubang depan dan belakang (qubul wa dubur) dengan istinja’ (membersihkan diri).

Pada suatu hari Nabi Muhammad saw, memberikan pengajaran tentang tata cara istinja’ yang benar, “jika kalian membuang hajat (membuang air besar/kecil), maka ber- istinja’-lah dengan tiga batu !” Begitulah tata cara membersihkan diri dari kotoran yang keluar dari dua jalan dalam tubuh kita pada periode pertama. Pada masa berikutnya Allah swt, memberikan isyarat tentang kebersihan dan kesucian dengan menurunkan wahyu-Nya:

فيه رجال يحبون ان يتطهروا والله يحب المتطهرين (التوبة: 108)

Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah swt, mnyukai orang-orang yang bersih.” (QS. Taubah:109).

Dalam ayat ini Allah swt, memuji penduduk Quba’ dalam hal tata cara bersuci. Tatkala Rasulallah saw, menanyakan tentang prihal tersebut kepada mereka, orang-orang Quba’ itu menjawab bahwa tata cara bersuci yang dilaksanakan ialah dengan menggunakan batu terlebih dahulu kemudian dengan air. Sejarah ini lalu dijadikan sumber ketetapan hukum dalam hal tata cara bersuci yang lebih baik (afdhal) dalam Islam.

Dari peristiwa inilah, sesuatu yang digunakan untuk membersihkan diri (istinja’) adalah air dan batu. Apabila air tidak ada, maka diperbolehkan dengan batu atau yang semakna dengan batu. adapun syarat-syarat penggunaan istinja’ dengan batu sebagai berikut:

Pertama, harus terdiri dari tiga batu atau satu batu dengan tiga sudut, meski umpama kebersihan sudah diperoleh tanpa tiga batu atau satu batu dengan tiga sudut. Hal ini karena ada penegasan dari Nabi Muhammad saw, dengan sabdanya:

وليستنج بثلاثة اجمار فلو لم يحصل إلا بأكثر  من الثلاثة وجبت الزيادة عليها

Dan hendaklah kamu ber- istinja’ dengan tiga batu. Jika belum bisa bersih kecuali dengan lebih dari tiga batu, maka wajib menambah dari bilangan batu semula.”

Dari keterangan hadits ini, disunnahkan melakukan istinja’ dengan hitungan ganjil (itar), walaupun kebersihan sudah dihasilkan dengan penggunaan genap.

Kedua, harus bisa membersihkan najis dari tempat keluar kotoran.

Ketiga, najis yang akan disucikan tidak boleh sampai kering. Karena apabila sampai kering, maka batu tidak dapat menghilangkan najis dengan seketika. Jika najis itu kering seluruhnya atau sebagian, maka cara bersuci dengan menggunakan air.

Keempat, najis tidak boleh berpindah dari tempat asalnya (tempat keluarnya kotoran).

Kelima, tidak ada sesuatu yang lain, seperti najis lain atau sesuatu yang suci (misalnya air) selain keringat.

Keenam, sesuatu yang keluar itu tidak melapaui/mengenai tampat sekitar keluarnya kotoran (dubur, saat buang air besar atau ujung dzakar/qubul, ketika buang air kecil).

Ketujuh, najis tidak terkena air (yang bisa mensucikan) atau cairan, walaupun air/cairan itu suci, setelah dan atau sebelun ber-istinja’. Dari ketetapan ini, maka dengan batu yang basah tidak sah, karena batu tersebut menjadi najis.

Kedelapan, batu yang digunakan harus suci, bukan yang terkena najis (al-mutanajjis).

Tata cara bersuci tersebut merupakan bagian dari dispensasi (min al-rukhas) dan ciri khas (min al-khususiyat) umat Nabi Muhammad saw. Dari sisi medis, setelah diadakan penelitian oleh para ahli kesehatan ternyata batu mengandung zat antibiotik.

Adapun istinja’ dengan sesuatu yang semakna dengan batu memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

Pertama, sesuatu itu suci.

Kedua, harus bisa menghilangkan najis secara efektif dari tempatnya keluarnya kotoran menurut pendapat yang sahih.

Ketiga, bukan sesuatu yang dimuliakan secara syariat, seperti sesuatu yang di makan, menurut pendapat yang sahih.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan pesatnya inovasi-inovasi yang dilakukan para ahli, fakta yang kian umum kita temukan ialah sarana bersuci yang dianggap lebih praktis yakni alat pembersih tissue yang banyak tersedia di toilet dan wc hotel-hotel, gedung-gedung mewah, kapal laut atau pesawat terbang dan lain-lain.

Berdasarkan kriteria yang telah disebutkan diatas dan berlandaskan keterangan:

يجوز الإستنجاء بأوراق البياض الخالى عن ذكر الله (بغية المسترشدين: 27)

Boleh ber-istinja’ dengan menggunakan kertas-kertas putih yang tidak bertuliskan lafadz Allah.

اما الورق الذى لا يصلح الكتابة فإنه يجوز الإستنجمار بدون كراهة (المذاهب الأربعة: 98.ج: 1)

Adapun kertas yang tidak layak untuk digunakan menulis, maka boleh dibuat ber- istinja’ tanpa kemakruhan”.

maka penggunaan tissue untuk bersuci diperbolehkan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: